Loading...

Pemilu 2019 Elit Politik Jangan Menjadi Sumber Hoax dan Ujaran Kebencian

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Memasuki masa kampanye Pemilu 2019, salahsatu tokoh pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Abdillah Toha menegaskan pentingnya para elit politik nasional untuk dapat mengendalikan diri dalam bertutur kata maupun bersikap. Sebab kekerasan verbal yang dituangkan dalam perkataan tersebut tidak menutup kemungkinan nengarah pada kekerasan fisik dikalangan pendukung/simpatisan. Terlebih apabila hoax dan ujaran kebencian itu dikemas atau dikaitkan dengan keagamaan.

Sebelumnya beberapa waktu lalu lima tokoh pendiri PAN termasuk Abdillah Toha telah mengingatkan dan menegur tokoh pendiri PAN, Amien Rais (AR) yang kini berada dalam jajaran tim pemenangan pemilu paslon capres/cawapres 02. Menurut Abdillah, AR yang dahulu sempat menjadi idola diera reformasi, tak seharusnya mengeluarkan omong kosong seperti
menyebar-nyebarkan berita seakan-akan Partai Komunis Indonesia (PKI) akan bangkit kembali dan mempermasalahkan adanya 20 juta tenaga kerja asing ( TKA) Cina di Indonesia. Teguran itu menurut Abdillah harus dibaca sebagai bentuk pernyataan pertanggungjawaban moril para pendiri PAN.

“Kami sebagai pendiri PAN merasa punya kewajiban moril untuk mengingatkan Pak AR yang sama-sama pendiri PAN bahwa kita mempunyai prinsip-prinsip yang harus dijalankan. Dan menurut pandangan kami Pak AR telah meninggalkan prinsip-prinsip itu jauh/telah menyimpang, jadi kita ingatkan”, Ujar Abdillah Toha di Jakarta (09/02/2019) saat menyampaikan alasan utama teguran disampaikan kepada Amin Rais yang dinilai sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa.

Meski ia mengakui tidak jika para pendiri PAN tidak mempunyai wewenang untuk mengatur PAN, terlebih kini mereka sudah berada diluar PAN. Tetapi sebagai pendiri PAN ia bersama yang lainnya perlu mengingatkan bahwa PAN didirikan karena reformasi. Dari surat yang diusulkan sebelumnya tentu berefek positif dikalangan PAN.

Abdillah sendiri meyakini jika langkah melayangkan surat terbuka kepada AR tidak ada hubungannya dengan pilpres 2019.

Namun jika dihubungkan dengan kondisi saat ini (tahun politik) yang semuanya sedang memanas, ia berharap jangan sampai cara-cara yang dipakai AR justru membuat situasi makin panas dan berpotensi memecah belah bangsa.

“Ini, kan omong kosong seseorang yang berpendidikan politik dengan tingkat Doktor menyebarkan berita mengenai bangkitnya PKI. Kasihan rakyat biasa yang dibodohi oleh orang pandai”, ungkap Abdillah yang berharap AR segera menyadari tindakannya dan berhenti melakukan manuver politik demi kekuasaan.

Menurutnya kalau memang ucapan yang dikeluarkan oleh AR tersebut benar adanya maka harus disertai dengan bukti. Sebab keberadaan PKI itu sudah dilarang dengan Tap MPR.

Abdillah mengakui ketika mendirikan PAN, ia bersama para pendiri lainnya sempat berpikir jika PAN bakal dapat minimal 20% suara tapi ternyata hanya 7%.

Basis kekuatan PAN sebenarnya Muhammadyah yang diperkirakan mencapai 13 juta. Tapi ternyata tidak semua Muhammadyah memilih PAN.

Menanggapi pelaksanaan pemilu 2019, Abdillah melihat masa kampanye pemilu 2019 ini terlalu panjang. Masyarakat maupun Pemerintah sudah begitu lama membicarakan pemilu dan terus berpikir politik. Ia pun menyesalkan banyaknya ujaran kebencian dan hasutan selama masa kampanye.

“Saya sangat menyesalkan cara-cara kampanye yang mencampur-adukan agama secara keras, karena sangat berbahaya sekali”, ujar Abdillah.

Ia menambahkan bahwa kita masih harus terus belajar demokrasi dan pada pilpres 2019 ini terdapat kemunduran dibandingkan tahun 2018.

Menurutnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah presiden pertama yang dipilh. Indonesia sebagai negara besar dengan 250 juta penduduk dan 190 juta peserta pemilu menjadikan Pemilu Indonesia sebagai pemilu ketiga terbesar didunia setelah Amerika dan India. Dan kita berhasil melaksanakan itu di tahun 2014 dan 2009 dengan baik. Ia juga berharap pemilu kali ini meski panas tapi bisa dilaksanakan dengan baik. Kita harus merasa bangga, jangan sampai kebanggaan kita itu nantinya dirusak.

Sebab jika situasi politik yang memanas didiamkan, maka dari kekerasan yang bersifat verbal tersebut apabila didiamkan bisa menjadi kekerasan fisik.

“Jangan sampai kita pecah seperti kejadian di Timur Tengah. Apalagi jika ada kekuatan luar masuk. Saya tidak melihat itu semua, tapi kita mesti waspada”, ujar Abdillah mencoba mengingatkan.

Karena itu pula untuk menjaga pemilu 2019 sebagai pemilu yang aman, damai dan kondusif serta terbebas dari hoax dan ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah bangsa, dirinya cukup menghormati aparat keamanan saat ini (Polri), khususnya setelah dibawah komando Jenderal Polisi Profm Dr. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D sebagai Kapolri.

Ia yakin Kapolri pasti mengetahui apa yang harus dilakukan dan paham dengan batasan-batasan
HAM.

Abdillah juga menambahkan dalam mengamankan pemilu yang menggunakan agama, misalnya
Polri sebagai penegak hukum jangan melihat dari sisi agama tapi lebih pada aspek pelanggaran hukum yang dilakukannya.

Sedangkan untuk mengantisipasi hoax dan ujaran kebencian, menurut Abdillah sudah ada undang-undang anti kebencian yang sebaiknya dilaksanakan.

Masyarakat jangan cepat percaya dengan hoax. Jika ada hal/berita yang aneh-aneh bisa dicek terlebih dulu, diantaranya melalui internet.

“Jangan cepat jari bergerak. Sekarang ini yang berbahaya bukan hanya mulut bergerak saja. Jika berita-berita baik dan berita sensasional kurang lebih ceknya begitu (melalui internet) dan melalui media-media massa yang bonafit”, himbau Abdillah Toha.

Berita Lainnya
Presiden Jokowi Lantik Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Presiden Joko Widodo atau Jokowi melantik Gubernur dan Wakil Gubernur Malu...
Fokus Ibadah Ramadan, Haedar Nashir Imbau Medsos ikut ‘Puasa’ MAGRLANG, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau umat Islam...
Dilaksanakan Nanti Sore, Inilah Tahapan Sidang Isbat Awal Ramadan 1440H JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Agama akan melangsungkan Sidang Isbat Awal Ramadan 1440 H, pad...
Sandiaga: Kami Berkomitmen untuk tidak Mengambil Gaji se-rupiah pun JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno me...
Aa Gym: Prabowo-Sandi Pilihan Hati JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - KH Abdullah Gymanstiar memberikan dukungan untuk capres dan cawapres nomor...
Kanal: Nasional Pemilu