Loading...

Polri Tidak Bisa Dipisahkan dari Demokrasi dan Globalisasi

MEDAN (TAJUKTIMUR.COM) – Kompleksitas tantangan tugas yang dihadapi Polri saat ini tidak dapat dipisahkan dari fenomena besar yang terjadi, dalam kehidupan manusia, demokrasi, dan globalisasi.

“Dimana demokrasi yang melanda dunia telah memberikan ruang yang lebih luas bagi setiap orang untuk lebih aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dalam amanah yang dibacakan Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpau, di Medan, Selasa (6/3)

Hal tersebut dikatakan Kapolri, dalam pendidikan pembentukan Bintara Polri TA 2017/2018 di SPN Sampali Polda Sumut angkatan ke-41 yang dilantik sebanyak 399 orang.

Kapolri mengatakan, hal tersebut membawa dampak terhadap hak berpolitik, kebebasan menyampaikan pendapat disertai tuntutan Hak Asasi Manusia (HAM) dan supremasi hukum.

Dengan waktu yang bersamaan, menurut dia, globalisasi juga telah membuat dunia menjadi tanpa batas dan menghasilkan perubahan besar dalam semua aspek kehidupan manusia (Revolution In All Affair).

“Di aspek keamanan, kedua fenomena ini telah memunculkan beberapa implikasi negatif di masyarakat, seperti munculnya kejahatan berdimensi baru, mencuatnya nilai-nilai primordial yang berlatar belakang kesukuan mau pun keagamaan, serta kemanfaatan negatif dari media sosial mau pun media online untuk ujaran kebencian (Hatespeech), hoax dan pencemaran nama baik,” ujar Jenderal Polisi Tito.

Ia menyebutkan, Polri selaku penanggung jawab bidang keamanan dalam negeri harus mampu merespon dan mengantisipasi setiap dinamika perkembangan dan perubahan tersebut secara cepat dan tepat.

Salah satu yang dilakukan Polri adalah menerapkan kebijakan Promoter (Profesional, Modern, dan Terpercaya) dengan tiga kebijakan utama, yaitu peningkatan kerja, perbaikan kultur dan manajemen media.

Kebijakan tersebut, dilakukan dengan strategi proaktif yang mendasari pada konsep utama pemolisian demokratif (Demokratif Policing).

Dalam menjalankan strategi kebijakan tersebut, perlu didukung Sumber Daya Manusia Polri yang berkualitas, yaitu personel Polri yang paham bagaimana menjalankan tugas pokok, fungsi dan perannya sejalan dengan prinsip berdemokrasi.

“Mampu melayani masyarakat tanpa pamrih, mampu mempertanggungjawabkan kepada rakyat selaku pemberi mandat,” kata Kapolri.

Penutupan Pendidikan Bintara Polri TA 2017-2018 yang dididik sebanyak 10.578 personel Polri, terdiri dari 9.578 Polisi laki-laki, 561 Polisi wanita.sebanyak 9.939 Bintara Polri memiliki kualifikasi umum dan 200 Bintara Polri memiliki kualifikasi teknologi informasi.

Para bintara dididik selama tujuh bulan dan ditutup serentak pada 6 Maret 2018 baik itu di sepolwan Lemdiklat Polri, Pusdik Sabhara, Pusdik Binmas dan 29 SPN jajaran Polda seluruh Indonesia.

(fr)

Berita Lainnya
10 Pemerhati Anak Terima Penghargaan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Nasional Perlindungan Anak pada Minggu memberikan penghargaan kepad...
BMKG: Hujan Ekstrim Berpotensi Terjadi hingga Desember BOGOR, TAJUKTIMUR.COM - Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Bogor...
Ma’ruf Amin: Program Jokowi dirasakan Masyarakat LEBAK, TAJUKTIMUR.COM - Calon Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengatakan program yang dijalankan Presi...
Soal Perda Keagamaan, Maarif Institute Sayangkan Kriminalisasi Grace Natalie JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhd Abdullah Darraz menyayangkan krim...
KPPPA: Mengatasi Narkoba Pekerjaan Bersama JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindung...
Kanal: Nasional