Loading...

Puncak Musim Hujan Hingga Maret, Waspada Hujan Lebar

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Beberapa hari yang lalu telah terjadi bencana hidrometeorologi, seperti kejadian bencana tanah longsor di kawasan Puncak, Bogor dan banjir di beberapa wilayah Jakarta akibat luapan bendungan Katulampa. Kejadian bencana alam ini telah memakan korban jiwa. Kondisi ini diakibatkan salah satunya hujan ekstrem yang terjadi di wilayah Puncak Bogor dalam dua hari terakhir berturut-turut. Curah hujan yang tercatat sebesar 152 mm/ hari dan 164 mm/ hari, seperti yang diutarakan Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. di depan media massa dalam video konferensi.

Kepala BMKG yang saat itu berada di Medan melakukan konferensi pers melalui video konferensi bersama Ir. Bernardus Wisnu Widjaja, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB di Kantor BNPB; dan Sekretaris Utama BMKG, Dr. Widada Sulistya, DEA dengan dihadiri Ir. Jarot Widyoko, Sp, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Kementerian PUPR di Kantor BMKG Pusat.

“Saat ini Wilayah Indonesia masih berada pada periode musim hujan. Kondisi ini dipengaruhi dari angin baratan yang cukup kuat sejak Januari 2018 dan diprakirakirakan hingga Maret 2018 wilayah Indonesia masih berada pada periode puncak musim hujan,” ujar Dwikorita.

Sementara itu, Sekretaris Utama, Dr. Widada Sulistya, DEA saat di wawancarai oleh media massa menambahkan bahwa beberapa hari ini terakhir terdapat pertemuan massa udara akibat dari monsoon Asia dan terdapat hambatan massa udara selatan dan bertemu di atas P. Jawa sehingga curah hujan di daerah tersebut tinggi.

Lebih lanjut Dwikorita menjelaskan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi memasuki puncak musim hujan, begitu juga dengan sejumlah daerah lainnya yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat hingga sepekan kedepan.

Beberapa wilayah yang berpotensi terjadi hujan sedang-lebat dalam seminggu ke depan, yaitu di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa Barat, jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Papua, dan Papua Barat.

Potensi hujan lebat dan angin kencang lebih dari 20 knot berpotensi terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Riau, Kepulauan Riau, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia Selatan Jawa Tengah, NTB, dan Laut Arafuru.

Menurutnya, potensi angin kencang ini berdampak pada peningkatan gelombang laut dengan tinggi gelombang mencapai 2.5-6 meter di Perairan Utara Kepulauan Anambas, Natuna, Perairan Utara Singkawang, Laut Cina Selatan, dan Laut Natuna Utara.

Untuk itu, Dwikorita mengimbau masyarakat mewaspadai potensi terjadinya genangan, banjir, dan tanah longsor. “Waspada hujan lebat disertai angin yang dapat menyebabkan pohon tumbang serta tidak berlindung di bawah pohon ketika terjadi hujan dan petir,” imbau Dwikorita.

Dua Bendungan Kurangi Banjir, Selesai Dibangun 2019

Kementerian Pekerjaan dan Perumahan Rakyat tengah melakukan beberapa program dalam upaya mengurangi banjir di Jakarta. Salah satunya dengan membangun dua bendungan di Bogor, seperti yang diutarakan Jarot Widyoko, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR. “Dua bendungan itu adalah Bendungan Ciawi dan Sukamahi yang sekarang mulai dalam proses, bendungan ini digunakan untuk mengurangi banjir yang akan ditargetkan akan selesai pada 2019 mendatang,” ujar Jarot saat dimintakan keterangan usai kegiatan Jumpa pers di Kantor BMKG.

Jarot menambahkan jika nanti bendungan ini selesai dikerjakan, laju air menuju Jakarta akan terhambat dan bisa mengurangi debit air karena tertampung. Bendungan ini jenisnya kering yang berarti saat terjadi hujan bisa menampung air, dan saat tidak hujan bendungan tersebut kering.

Selain membangun bendungan, normalisasi Sungai Ciliwung pun dilakukan, misalnya dengan membuat sudetan sungai yang nantinya akan mengakibatkan air dari bendungan mengalir ke Ciliwung dan Sudetan masuk ke Cipinang dan Kanal Banjir Timur (KBT). Proses normalisasi Sungai Ciliwung tidak seluruhnya dilakukan, hanya sepanjang 33 km dan saat ini baru berjalan sepanjang 16 km.

(fr)

Berita Lainnya
Bawa Narkoba, Polisi Tembak Mati Warga Malaysia MEDAN, TAJUKTIMUR.COM - Tim Opsnal Sat Res Narkoba Polres Tanjung Balai, Polda Sumatera Utara, menem...
Papua Barat paling rendah Tingkat Kepatutan Pelaporan Harta Kekayaan JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan Pemerintah Provinsi Papua Ba...
Pushidrosal TNI-AL Temukan CVR Lion Air JT-610 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) yang diga...
Fahira Idris: Isu Perempuan dan Anak Harus Ada Dalam Debat Pilpres JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Dari lima tema besar Debat Publik Pasangan Calon (Paslon) Presiden dan Wak...
Relawan Jokowi – Prabowo gelar Pertandingan Persahabatan KUALA LUMPUR, TAJUKTIMUR.COM - Relawan pendukung pasangan Jokowi - KH Ma`ruf Amin dan Prabowo - Sand...
Kanal: Nasional