Loading...

Soal Video Sampah Rich Horner, Ini Komentar KLHK

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Rich Horner, wisatawan asal Inggris tiba-tiba menjadi beken di dunia maya ketika membagikan video pengalamannya menyelam di laut Nusa Penida, Bali.

Horner merekam dirinya sendiri yang tengah menyelam di dalam laut. Di sekitarnya, tampak banyak sampah plastik terapung mengikuti arus ombak laut bersamaan dengan ikan-ikan yang berenang ke sana ke mari.
Dalam video yang berdurasi 2 menit 34 detik tersebut Horner mencoba memperlihatkan sisi lain laut Bali yang menjadi destinasi wisata favorit para turis.

Video yang sudah ditonton lebih sejuta kali ini lantas mendapat tanggapan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun, dan Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati menanggapi beredarnya video Marine Plastic di Nusa Penida, Bali, yang diunggah wisatawan Rich Horner di medsos kemudian di-repost oleh World Economic Forum pada 7 Maret 2018.

Rosa mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia telah banyak melakukan upaya mengatasi persoalan sampah, khususnya di Bali. Menurut dia, banyaknya sampah plastik yang terbawa arus laut secara periodik di pesisir Bali seperti terlihat dalam video milik wisatawan Rich Horner menjadi tanggung jawab seluruh negara.

“KLHK bekerja sama dengan beberapa perusahaan kemasan, menyediakan beberapa drop box, untuk menampung kemasan botol plastik dan kemasan karton untuk minuman,” ujar Rosa Vivien di Jakarta, Sabtu (10/3/2018).

Vivien juga menyampaikan bahwa kegiatan pembersihan rutin dilakukan setiap hari di pantai, dengan dukungan pemerintah daerah dan perusahaan minuman, serta hadirnya gerakan kurangi kantong plastik, yang disuarakan oleh beberapa lembaga swadaya masyarakat.

“Saat ini juga dilakukan kajian sampah plastik di laut di 20 lokasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Maritim bekerja sama dengan World Bank. Kota Denpasar, Bali, menjadi salah satu lokasinya,” katanya.

Terkait dengan sampah plastik di laut, Indonesia telah berkomitmen mengurangi sampah plastik di laut 70 persen dan mengurangi limbah melalui reduce-reuse-recycle (3R) sebanyak 30 persen pada 2025, sebagaimana disampaikan Presiden Jokowi pada G20 Summit 2018.

“Begitu pula Ocean Foundation, telah melakukan percobaan dengan memasang jaring dan menghisap sampah-sampah tersebut sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah sampah di laut, namun demikian tentunya hal ini akan membutuhkan jumlah biaya yang tidak sedikit jika Pemerintah Indonesia ingin mencoba melakukan hal yang sama,” kata Vivien.

Pakar Oceanografi Pusat Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan Widodo Pranowo berpendapat bahwa pola arus pada akhir Februari hingga awal Maret telah memasuki selat Lombok dari arah utara, yaitu dari arah Selat Makassar dan Laut Jawa menuju Samudera Hindia.

“Sampah-sampah tersebut bisa jadi bukan hanya dari Indonesia. Hal ini terindikasi dari sejumlah kemasan dan ‘marine litter’ yang ditemukan saat ‘diving’ hari pertama bukan berasal dari lokasi setempat, karena tidak ada sungai yang mengalir dari Nusa Penida. Sampah atau ‘marine litter’ tersebut terbawa arus yang berjarak ribuan kilometer,” katanya.

Video Rich Horner memperlihatkan lokasi menyelam di perairan Nusa Penida, Bali penuh dengan sampah plastik (marine litter). Secara utuh, Rich Horner juga menyampaikan update bahwa di hari kedua, dirinya tidak menemukan lagi sampah di lokasi yang sama.

Ia juga menyatakan bahwa sampah-sampah di lokasi penyelaman, kemungkinan berasal dari Asia Tenggara.

Kebijakan terbaru dalam pengelolaan sampah adalah Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, yang menargetkan pengurangan sampah 30 persen dan 70 persen penanganan sampah pada 2025. Saat ini kebijakan tersebut sedang disosialisasikan.
Hal itu juga ditindaklanjuti dengan Peraturan Presiden tentang Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Sampah di Laut.

Lantas di waktu yang bersamaan juga berlangsung aksi pengurangan sampah di laut, di 26 kota yang memiliki pantai atau sungai besar bersama masyarakat, antara lain di Surabaya, Manado, Jakarta Utara, Denpasar, Banjarmasin, serta direncanakan akhir Maret dan April, di Labuan Bajo dan Palembang.

Di samping edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk internasional, untuk mencari solusi dalam pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan.

(fr)

Berita Lainnya
BMKG: Waspada Potensi Banjir dan Longsor Meningkat JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau masuknya mus...
Kemenag Uji Coba Sistem Daftar Nikah Online JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Agama telah meluncurkan Sistem Informasi Pernikahan Berbasis W...
KPI minta PRSSNI Dorong Anggotanya Hindari Pelanggaran Siaran JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta Persatuan Radio Swasta Siaran Nas...
Pengamat: Publik Harus Pertanyakan Program Capres-Cawapres JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari mengatakan...
Satgas Pangan Pantau Stok Menjelang Natal dan Tahun Baru 2019 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Satgas Pangan akan melakukan pemantauan untuk memastikan stok kebutuhan po...
Kanal: Nasional