Loading...

Sukamta Ingatkan Syarat Ketat dalam Proyek Obor

JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM – Rencananya April 2019 mendatang akan ada penandatangan kerjasama proyek OBOR (One Belt One Road)-Indonesia tahap pertama. Proyek yang juga disebut The New Silk Road ini harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati demi kepentingan Indonesia.

Sukamta, anggota Komisi I DPR RI, Jumat (29/3) di Jakarta menyatakan, Pemerintah sebagai fasilitator harus hati-hati terhadap rencana kerjasama proyek OBOR di Indonesia.

“Kerjasama ini musti dipertimbangkan matang-matang segala aspeknya, termasuk jangka panjangnya, apakah proyek kerjasama ini akan berdampak positif bagi generasi dan masa depan Indonesia. Pertimbangan tadi bisa dimasukkan ke dalam syarat-syarat kerja sama. Indonesia harus memberikan syarat-syarat yang sangat ketat. Intinya supaya Indonesia bisa maju tanpa menjadi negara pengekor atau negara lemah yang bisa dikendalikan bangsa lain karena ketergantungan finansial. Syarat-syarat yang sangat ketat itu harus diajukan ke pihak China. Jika China menolak, ya kita jangan kompromi apalagi mengalah. Yang paling butuh kan China, bukan kita,” katanya.

Sekretaris Fraksi PKS ini menjelaskan bahwa jika pun China setuju dengan syarat-syarat tadi, kita musti tetap waspada. Jangan sampai Indonesia terkena China’s Money Trap. Makanya harus dipastikan skema dengan OBOR ini murni investasi, bukan skema utang. Jadi untung atau rugi harus ditanggung bersama. Jadi menutup potensi penyitaan aset negara seperti yang terjadi di beberapa negara yang gagal bayar karena terkena China’s Money Trap tadi. Sebab, sejak OBOR digulirkan China beberapa tahun lalu, hingga kini setidaknya sudah ada korban 8 negara yang terjerat utang mulai dari Afrika, Asia Selatan hingga wilayah Pasifik seperti Zimbabwe, Maladewa, Angola, Srilanka, Pakistan, Fiji, Tonga, Papua Nugini, dst. Negara-negara tersebut dianggap gagal bayar utang, karena terjebak pinjaman China yang menggiurkan tadi.

Ketua DPP PKS Bidang Pembinaan dan Pengembangan Luar Negeri ini menekankan bahwa OBOR ini musti dilihat gambaran besarnya, bukan cuma OBOR-nya semata. China sedang ingin memperluas hegemoninya, khususnya dalam bidang ekonomi dan bisnis. Produk-produk China yang selama ini sudah membanjiri pasar yang ada, akan dibuat lebih mudah untuk distribusinya. Dampak OBOR bisa mengubah geopolitik dunia. Terlebih lagi AS mulai mengurangi pengaruhnya di Asia Tenggara, misalnya dengan mundur dari TPP. Bisa tidak Indonesia memanfaatkan posisi kerjasama proyek OBOR ini, untuk melangkah lebih maju dan meningkatkan marwah dan wibawa Indonesia di kancah internasional, minimal tingkat regional Asia? Ini yang harus dicermati.

“Selain itu produk-produk China, selain terkenal harga lebih murah, juga mulai mampu bersaing dari segi kualitas. Nah, bisa tidak Indonesia bersaing dengan produk-produk China yang sudah lebih bagus tersebut? Ini yang harus kita pastikan,” ujar wakil rakyat dari Dapil daerah istimewa Yogyakarta ini.

Berita Lainnya
Presiden Jokowi Lantik Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Presiden Joko Widodo atau Jokowi melantik Gubernur dan Wakil Gubernur Malu...
Fokus Ibadah Ramadan, Haedar Nashir Imbau Medsos ikut ‘Puasa’ MAGRLANG, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau umat Islam...
Dilaksanakan Nanti Sore, Inilah Tahapan Sidang Isbat Awal Ramadan 1440H JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Agama akan melangsungkan Sidang Isbat Awal Ramadan 1440 H, pad...
Sandiaga: Kami Berkomitmen untuk tidak Mengambil Gaji se-rupiah pun JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno me...
Aa Gym: Prabowo-Sandi Pilihan Hati JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - KH Abdullah Gymanstiar memberikan dukungan untuk capres dan cawapres nomor...
Kanal: Nasional