Loading...

Tokoh OPM, Filep: Aparat TNI Harus Lebih Dewasa Hadapi Demokrasi

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) Filep Jacob Samuel Karma meminta aparat militer (TNI) bersikap lebih dewasa dalam memahami demokrasi dan kebhinekaan.

Berhasil lepas dari tahanan petugas bandara Soekarno Hatta pada Selasa malam (02/01/2018), Filep Jacob Semuel Karma
mengaku merasa terganggu secara psikologis. Karena penangkapan terjadi saat dirinya berada dalam kondisi lemah fisik (lelah). Belum lagi umpatan-umpatan kasar dari sejumlah aparat yang ditujukan terhadap dirinya disela-sela rentetan pertanyaan yang di ajukan.

Menurut Filep peristiwa penangkapan itu baru pertama kalinya ia alami di bandara. Selama dua jam setengah proses penangkapan dan interogasi yang dia jalani tentu saja menghambat berbagai aktivitas yang seharusnya dia lakukan begitu tiba di Jakarta.

“Aparat semestinya jangan bersikap rasis karena saya sempat menerima umpatan kasar macam ‘monyet’, ‘bodoh’, dan sebagainya saat mereka menginterogasi saya,” ujar Filep di Jakarta (Rabu, 03/01/2017).

Filep terpaksa menjalani proses interogasi karena mengenakan atribut Bintang Kejora (BK) dalam bentuk pin (bross) yang di sematkan dibagian dada. BK merupakan simbol gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Filep Jacob Semuel Karma, mantan tahanan politik Papua, diperiksa oleh personel TNI Angkatan Udara dan petugas keamanan di Bandar Udara Soekarno-Hatta pada Selasa malam kemarin. Ia dibebaskan sekitar pukul 1 dini hari Rabu, 3 Januari 2018.

Filep datang ke Jakarta setelah menghadiri reuni bersama kawan masa SMA di Yogyakarta. Dalam penerbangan dari Yogya ke Jakarta,

“Penangkapan terjadi tidak lama setelah saya ke toilet, sempat ada seorang penumpang yang menanyakan asal saya dari mana. Mungkin karena jenggot saya yang panjang dan tampang saya yang menyeramkan, saya di curigai. Belakangan petugas bandara menegur dan menangkap saya karena pin yang saya kenakan”, jelas Filep.

Menurut Filep, bendera Bintang Kejora (BK) adalah simbol kebangsaan Papua. Ia selalu mengenakan pin Bintang Kejora sejak 6 Juli 1998 dalam peristiwa yang dikenal “Biak Berdarah”.

“Saya pakai ini (pin BK) untuk hati saya senang, seperti ibu-ibu pakai bros,” ujar Filep. (dwisan/ttcom)

Berita Lainnya
Ukhuwah Islamiyah Wujudkan Pemilu Damai 2019 TANGERANG SELATAN, TAJUKTIMUR.COM - Mabes Polri bekerja sama dengan yayasan Majelis Taklim Ad Dzikri...
Jelang Natal dan Tahun Baru, Pemerintah Awasi Tarif Maskapai JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Perhubungan mengeluarkan edaran kepada Unit Penyelenggara Band...
Masyarakat Terlibat Politik Uang Bisa Dipidana PALU, TAJUKTIMUR.COM - Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum Sulawesi Tengah, Ruslan Husein, menegaska...
Dompet Dhuafa Gelar Kampanye Humanesia JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Dompet Dhuafa menggelar aksi humanesia. Aksi kampanye ini dengan semangat ...
KPK: UU Tipikor di Indonesia Belum Berstandar Internasional JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai Undang-Undang RI Antikorupsi No...
Kanal: Nasional Tokoh