Loading...

5 Amalan Utama Di Bulan Dzulhijjah Yang Harus Anda Ketahui

Oleh: Ust. Wahyudin, S.Pd.I (PW IKADI DIY)

JAKARTA (TAJUK TIMUR.COM) — Tak terasa saat ini kita berada pada tanggal 9 Dzulhijjah 1435 (31/8). Yang sedang beribadah hajji saat ini sedang melakukan wukuf di Arafah. Sedangkan bagi kaum muslimin  yang  tidak sedang menjalankan ibadah  haji,  disunnahkan untuk melaksanakan puasa ‘Arafah yang memiliki keutamaan menghapuskan dosa satu  tahun yang  lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana  sabda Nabi  SAW:

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) -aku mengharap dari Allah- dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) -aku mengharap dari Allah- akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).
Begitulah kecintaan dan kemurahan Allah SWT kepada para hamba-Nya sehingga menyediakan waktu-waktu tertentu agar mereka selalu memiliki harapan dan semangat yang tinggi untuk selalu dekat memohon ampunan kepada Allah.
Banyak amalan utama pada bulan Dzulhijjah ini yang sangat dianjurkan bagi kaum muslimin -selain kewajiban yang kita laksanakan pada hari-hari biasa-. Dari masing-masing amalan tersebut kita dapat mengambil pelajaran sebagai tarbiyah/pembinaan untuk kita semua. 
Amalan Pertama: ibadah Haji dan Umrah.
Pelajaran yang begitu tampak dari ibadah haji dan Umrah adalah persamaan derajat manusia di dalam Islam. Hal ini dapat kita lihat dari pakaian ihram yang tidak berjahit yang dikenakan oleh jamaah haji (laki-laki), semuanya berwarna putih yang tidak membedakan warna kulit dan suku bangsa, pangkat, jabatan dan kekuasaan. Yang membedakan derajat mereka adalah ketakwaannya di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)
 
Itulah salah satu letak keadilan Allah, semua hamba-Nya punya peluang untuk menjadi orang yang paling mulia; tanpa membedakan apakah dia miskin, kaya, pejabat, bangsawan, rakyat jelata, tua, muda, laki-laki maupun wanita, keturunan Arab ataupun bukan. Sudah selayaknya hakikat ini menjadi pemicu bagi kita untuk terus berlomba-lomba menjadi hamba yang paling bertakwa. Allah menyatakan di dalam firman-Nya:
 “…..Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al-Baqarah: 197). 
Pelajaran berikutnya dari pelaksanaan ibadah haji adalah napak tilas sejarah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ia merupakan bukti kepasrahan dan ketundukan total kepada Allah Sang Khaliq, Dzat Yang mencipta dan member rezeki bagi semua mahluk-Nya. 
Lalu bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1437 H ini belum mampu menunaikan haji? Tidak perlu khwatir, masih ada banyak kesempatan amal untuk kita laksanakan. Karena sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang dimuliakan Allah, dan amalan yang dilaksanakan pada hari-hari tersebut akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah Ta’ala, sebagaimana dalam sabda Nabi: 
“Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini.” Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari) 
Amalan kedua: Memperbanyak amalan-amalan sunnah
Amalan Sunnah dimaksud seperti shadaqah, berdzikir, tilawah, puasa, shalat malam, shalat Dhuha, membantu fakir miskin dan anak yatim, serta amalan-amlaan lainnya.
“Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi) 
Amalan Ketiga: berpuasa pada hari Arafah
Sebagaimana diterangkan di atas, puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa, sebab saat itu mereka harus melaksanakan wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji. 
“Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah.” (HR. Muslim)
 
Amalan Keempat; melaksanakan shalat Idul Adha
Amal khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah shalat Idul Adha. Jumhur ‘ulama menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad. Berbalikan dengan shalat idul fitri disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, maka shalat Idul Adha disunnahkan makan setelah shalat. Nilai tarbiyah yang bisa kita ambil dari ibadah ini adalah bersabar untuk mengakhirkan makan dalam rangka mengikuti sunnah Rasulullah.
Amalan Kelima;  melaksanakan udhhiyyah atau berqurban.
Amal lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah berqurban. Ibadah qurban ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Kita dapat melihat bahwa sejarah disyariatkannya qurban pada masa Nabi Ibrahim AS adalah sejarah pengorbanan anak manusia yang kemudian diganti dengan hewan, ketaatan, serta proses taurits/pewarisan di dalam keluarga muslim. Kita sekarang tidak diperintahkan untuk menyembelih Ismail-Ismail kita, tetapi menyembelih kambing, domba, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan kita kepada Allah SWT. 
Urgensi dari ibadah ini bisa kita lihat dari ancaman Rasulullah  bagi yang enggan berkorban padahal ia mampu sebagaimana disebutkan dalam hadis: 
Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : Siapa yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir di temapt sholat kami ini.”
(HR Ahmad, Daruqutni, Baihaqi dan al Hakim).
 
Demikianlah amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan manfaat darinya serta semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT, sehingga kita memperoleh ridha, rahmat, dan ampunan-Nya. 
(bri/ikd)
Berita Lainnya
Kita tak Butuh Status Bencana Nasional, Kita Butuh Solidaritas Nasional Oleh: Fahd Pahdepie * JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Secara hati-hati saya bertanya kepada sejumlah pi...
Perang Dagang USA vs China Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Genderang perang Amerika Serika...
PKS Tidak Berkhianat Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform) Dinamika politik pasca pilkada serenta...
Menghargai Bangsa Sendiri Oleh: Shamsi Ali* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Ada banyak hal yang menjadikan mata kita terbelalak ...
Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia Oleh: Mayor Inf Suwandi* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak me...
Kanal: Opini