Loading...

Belajar Pengelolaan Sampah dan Limbah dari Pemerintah Daerah di Republik Bavaria

Oleh: Muhammad Arfian*

Cuaca di Munich, Jerman, cukup cerah dengan suhu sekitar 14 derajat Celsius ketika rombongan peserta Technical Seminar on Waste Management dari Indonesia tiba di bandar udara Franz Joseph Strauss pada hari Ahad, 15 Oktober 2017.

Rombongan sebanyak 15 orang tersebut mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan selama 7 hari di Jerman atas undangan Kementerian Ekonomi, Media, Energi dan Teknologi Republik Bavaria.

Republik Bavaria merupakan salah satu negara bagian yang ada di bagian selatan Republik Federal Jerman.

Selama di Jerman, Kami telah direncanakan berbagai macam kegiatan diskusi dan kunjungan mengenai pengelolaan sampah dan limbah di beberapa kota dalam wilayah Republik Bavaria yang diorganisir oleh bfz (lembaga pelatihan yang didirikan oleh Asosiasi Pengusaha Bavaria) dan dibantu oleh AIPSE (Association of Indonesian Professionals for Science, Technology and Enterprises) dalam pelaksanaannya yang ditunjuk oleh kementerian.

Sejak tahun 2012 Kementerian Ekonomi Negara Bagian Bavaria Jerman membangun kerjasama dengan Indonesia di bidang manajemen dan pengolahan sampah. Program ini telah menghubungkan berbagai perusahaan, lembaga dan para pengambil keputusan politik di Indonesia dengan perusahaan, perguruan tinggi dan berbagai lembaga terkait di Bavaria.

Tahun ini pemerintah Bavaria kembali mengundang berbagai perusahan, insinyur, pelaku bisnis, pihak perguruan tinggi, dan lembaga pemerintahan Indonesia yang bergerak di bidang manajemen (pengelolaan) dan pengolahan sampah yang tertarik untuk menjalin hubungan kerjasama dengan partner terkait di Bavaria.

Sebagai negara yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan, Jerman sangat memperhatikan pengelolaan sampah dan limbah yang diproduksi baik oleh rumah tangga maupun industri. Untuk itu berbagai upaya dilakukan agar kegiatan yang dilakukan rumah tangga dan industri tidak menghasilkan atau meminimalisir barang- barang yang dapat merusak lingkungan hidup, yaitu sampah dan limbah.

Berlandaskan prinsip tersebut, manajemen sampah dan limbah secara efektif dan efisien menjadi faktor yang sangat penting untuk mencapai tujuan pelestarian lingkungan hidup di Jerman.

Berbagai aturan perundang-undangan disusun agar masyarakat memilah, mencegah terjadinya sampah, mendaur ulang sampah sampai mengelola sampah dan limbah berbahaya.

Untuk mencegah bertambahnya sampah, beberapa upaya yang sudah dilakukan misalnya adalah memberikan kesempatan kepada warga kota untuk memperbaiki barang-barang rumah tangganya yang rusak, membangun wahana yang memungkinkan masyarakat berbagi barang-barang yang sudah tidak digunakan dengan orang lain dan disediakannya ‘repair cafe’ tempat para tukang berkumpul dan menyediakan layanan perbaikan barang dan alat rumah tangga.

Setelah beberapa puluh tahun mengupayakan manajemen sampah dan limbah, Jerman menjadi salah satu negara di dunia yang diakui mengelola sampah dan limbah dengan baik. Beberapa faktor yang menjadikan Jerman mencapai predikat tersebut adalah:

1. Penyusunan dan penegakan aturan perundang-undangan dengan penuh komitmen

Sebagai sebuah republik federal, di tingkat nasional pemerintahnya menyediakan kerangka besar terkait aturan pengelolaan sampah dan limbah.

Berdasarkan kerangka besar tersebut, pemerintah negara bagian dan pemerintah kota/kabupatennya menyusun aturan yang lebih aplikatif untuk mengelola sampah dan limbah di wilayahnya masing-masing.

Sampai di sini, mungkin menjadi hal yang biasa saja, tetapi yang lebih penting adalah, setelah aturan main disusun, aturan tersebut dijalankan dengan penuh komitmen tanpa kompromi.

Pemerintah pusat dan daerah menegakkan aturan pengelolaan sampah dan limbah secara konsisten dengan menyediakan segala perangkat yang dibutuhkan agar aturan yang dibuat dapat ditegakkan secara optimal.

Contohnya adalah, ketika pemerintah kota Augsburg ingin mengurangi sampah plastik yang berbahaya untuk lingkungan di kotanya, maka mereka menyediakan kantong kertas kepada penduduknya agar sampah yang dikeluarkan dimasukkan ke dalam kantong kertas, dan tidak menggunakan kantong sampah plastik. Konsistensi ini memberikan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dalam pengelolaan sampah dan limbah.

2. Peningkatan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi dan edukasi secara berkelanjutan.

Keberadaan aturan dan penegakannya secara konsisten tidak akan berjalan jika masyarakatnya tidak memiliki kesadaran untuk mengelola sampahnya dengan baik.

Apalagi jika terkait sampah, dibutuhkan kerja sama masyarakat untuk memilah dan mengurangi sampah, yang akan dirasakan berat dan mahal jika tidak ada kesadaran tinggi dari tiap individu masyarakat.

Untuk itu, pemerintah daerah di Jerman membentuk unit khusus di organisasinya yang bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara berkelanjutan.

Misalnya di Kota Munich, Dinas Persampahannya memiliki unit Marketing yang menggunakan internet dan media sosial untuk menyosialisasikan kebijakan dan aturan terkait sampah dan limbah kepada masyarakat, selain mencetak brosur dan pamflet agar masyarakat menjalankan aturan pengelolaan sampah dan limbah dalam kehidupan sehari-harinya secara sukarela dan proaktif.

Upaya yang telah dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun tersebut saat ini telah dapat dinikmati dengan disiplinnya masyarakat dalam memilah dan membuang sampah di Kota Munich.

3. Penyediaan infrastruktur yang cukup untuk pengelolaan sampah dan limbah oleh pemerintah, baik secara mandiri atau berkolaborasi dengan pihak swasta

Infrastruktur yang memadai menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan dalam pengelolaan sampah dan limbah di Jerman. Karena itu pemerintah kota di Jerman mengupayakan berbagai macam sarana pengolahan sampah dan limbah untuk memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.

Fasilitas incinerator (pembakaran sampah) yang juga berfungsi sebagai pembangkit listrik di kota Ingolstadt misalnya, didirikan atas kerjasama 6 kota yang terletak di sekitar lokasi institusi tersebut dan juga pihak swasta. Pemerintah 6 kota tersebut memberikan 50% modal pembangunan fasilitas dan selebihnya diberikan pihak swasta. Dengan demikian fasilitas tersebut bisa melayani 1 juta penduduk dari 6 kota tersebut serta industri lokal, dan tidak hanya 300 ribu penduduk Ingolstadt saja.

Ketiga faktor di atas menjadi poin-poin yang sangat penting yang dirasakan oleh para peserta Technical Seminar on Waste Management dari Indonesia dalam berbagai kunjungan dan presentasi yang mereka ikuti.

Kami melihat bahwa ketiga faktor tersebut juga merupakan faktor yang harus diperhatikan pemerintah kota dan kabupaten di Indonesia Timur dalam mengelola sampah dan limbah di wilayahnya.

Ke depan pengelolaan sampah dan limbah akan menjadi sangat penting mengingat pembangunan daerah yang terus meningkat intensitasnya yang tentunya juga akan meningkatkan jumlah sampah dan limbah. Pemerintah daerah mesti lebih serius dalam penanganan dan pengelolaan sampah, sehingga masyarakat pun dapat merasakan manfaat dari hidup yang lebih sehat dan nyaman. [Bersambung]

*) Pemimpin Umum tajuktimur.com

 

(and/ttcom)

Berita Lainnya
Kita tak Butuh Status Bencana Nasional, Kita Butuh Solidaritas Nasional Oleh: Fahd Pahdepie * JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Secara hati-hati saya bertanya kepada sejumlah pi...
Perang Dagang USA vs China Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Genderang perang Amerika Serika...
PKS Tidak Berkhianat Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform) Dinamika politik pasca pilkada serenta...
Menghargai Bangsa Sendiri Oleh: Shamsi Ali* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Ada banyak hal yang menjadikan mata kita terbelalak ...
Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia Oleh: Mayor Inf Suwandi* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak me...
Kanal: Opini