Loading...

Indonesia dan Perjuangan Bangsa Palestina

Oleh: Prof Dr KH Didin Hafidhuddin*

Hari-hari ini perhatian masyarakat internasional terlebih umat Islam tertuju kepada Palestina pasca pengakuan sangat kontroversial dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Jerusalem sebagai ibukota Israel. Sikap politik pemerintah negara sekutu Israel tersebut semakin memperkeruh dan memanaskan situasi konflik Palestina-Israel. Sebagaimana diberitakan di berbagai media, sejak pekan lalu ketegangan terus meningkat di Tepi Barat dan Yerusalem Timur hingga menimbulkan banyak korban warga sipil Gaza akibat serangan bersenjata tentara zionis Israel di darat dan udara.

Pertengahan pekan ini Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa di Istanbul Turki, dihadiri para perwakilan negara-negara anggota OKI, salah satunya kepala negara Indonesia. Dalam komunike KTT Luar Biasa OKI atau Deklarasi Istanbul berjudul “Kebebasan Untuk Al-Quds”, sidang OKI mengajak negara-negara lain untuk menolak pengakuan Amerika Serikat terhadap Jerusalem sebagai ibukota Israel. Deklarasi Sidang KTT Luar Biasa OKI menilai pernyataan Presiden Donald Trump mengandung arti maklumat pemerintah Amerika Serikat yang tidak lagi memainkan perannya sebagai sponsor perdamaian di Timur Tengah seperti klaim mereka selama ini.

Seluruh negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas muslim yang menjadi anggota OKI diharapkan meningkatkan dukungan politik dan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina yang sedang berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan dan kedaulatan Tanah Airnya. Bangsa Palestina bukan hanya menghadapi kekejaman  militer Israel, tapi juga menghadapi ketidakadilan negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat dan sekutunya.

Dukungan terhadap jihad bangsa Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Tanah Airnya telah diberikan oleh umat Islam Indonesia sejak puluhan tahun silam. Dukungan dan bantuan kemanusiaan juga diberikan oleh masyarakat Indonesia melalui lembaga pengelola zakat dan lembaga kemanusiaan lainnya.

Di samping itu, aksi spontan berbagai elemen masyarakat yang melakukan demonstrasi menentang sikap Presiden Amerika Serikat dalam konflik Palestina-Israel merupakan satu hal yang wajar dan tidak berlebihan. Malah cukup beralasan pendapat yang menyatakan sangat baik seandainya negara-negara anggota OKI membentuk Pasukan Perdamaian yang dikirim untuk membantu memulihkan situasi keamanan di Palestina atau Jalur Gaza.

Islam mengajarkan jalan hidup damai dan toleran terhadap perbedaan di antara umat manusia. Tetapi ketika umat Islam di suatu wilayah diganggu dan dirampas hak-haknya, maka ketegasan dan keberanian untuk membela diri dan membela hak-hak hidup sesama muslim yang terzalimi merupakan sebuah keniscayaan. Masalah Palestina bukan hanya persoalan dua bangsa yang bertikai, melainkan telah menjadi persoalan dunia dan umat manusia.

Negara-negara Islam harus bisa menggalang persatuan dan solidaritas kemanusiaan dalam bentuk yang lebih konkrit dalam upaya membantu Palestina yang menjadi sasaran kesewenang-wenangan zionis Israel.  Langkah cepat yang diambil OKI dengan menggelar KTT Luar Biasa tentang Palestina di Turki sungguh patut diapresiasi. Harapan kita, pemerintah Indonesia yang menjadi simbol negara berpenduduk muslim terbesar di dunia semakin memainkan peran di kancah diplomasi internasional dalam mengatasi konflik Palestina-Israel.

Isu Palestina adalah ujian besar bagi persatuan negara-negara muslim. Dalam kacamata agama, pertolongan Allah dan kemenangan akan lebih mudah diturunkan ketika persatuan umat Islam terbina secara kokoh atas dasar keimanan dan kesabaran.

Dalam situasi semacam ini, rasanya kurang tepat bila sebagian kecil orang memandang aksi demo turun ke jalan dalam rangka menunjukkan keberpihakan dan dukungan moril terhadap perjuangan bangsa Palestina sekaligus desakan agar Pemerintah Amerika Serikat supaya berlaku adil di tengah konflik Palestina-Israel, dianggap sebagai langkah yang tidak ada manfaatnya.

Umat Islam, seperti diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis, adalah bagai satu tubuh, apabila satu bagian anggota tubuh mengalami luka, seluruhnya merasakan sakit. Di berbagai pelosok dunia, kaum muslimin menggunakan berbagai cara dalam mengekspresikan dukungan dan simpati terhadap perjuangan bangsa Palestina melawan kebiadaban Israel. Segala cara diperlukan dan semua ada manfaatnya.

Konflik Palestina-Israel memang memiliki akar persoalan yang tidak sederhana. Mengutip dari buku yang ditulis oleh tokoh Muhammadiyah almarhum Lukman Harun: Potret Dunia Islam (1985) bahwa pemimpin PLO (Palestine Liberation Organization) almarhum Yasser Arafat pada tahun 1979 mengatakan kepada Lukman Harun saat mengunjungi Palestina bahwa perjuangan pembebasan Palestina sangat berat karena harus menghadapi Israel dan Amerika Serikat. Secara jujur diapun mengakui ada kepala negara-negara Arab yang saat itu tidak senang dengan perjuangan Palestina.

Wilayah Palestina – seperti dituturkan Arafat – selain diduduki Israel, juga sebagian telah menjadi daerah dari negara Arab tertentu, sehingga pada waktu tertentu tidak tertutup kemungkinan terjadi bentrok antara pejuang Palestina dan negara Arab tersebut. Menjawab pertanyaan Lukman Harun kapan akan berakhirnya perjuangan pembebasan Palestina, Yasser Arafat waktu itu mengatakan terserah kepada Allah, mungkin 10, 20, 100 ataupun 1.000 tahun. Pokoknya rakyat Palestina akan berjuang terus dari satu generasi ke generasi lainnya sampai terwujudnya negara Palestina.

Bangsa Indonesia sebagai warga dunia yang cinta damai namun lebih cinta kemerdekaan, dapat merasakan pahit getirnya penderitaan bangsa Arab Palestina yang selama puluhan tahun dibombardir negerinya dengan rudal senjata dari udara dan darat, diporak-porandakan infrastruktur fisik dan kehidupan sosial mereka akibat perang serta direnggut ketenangan hidup dan dirampas masa depan anak-anak. Untuk itu sangat diharapkan kesadaran negara-negara Arab dan Dunia Islam agar bersatu guna mengakhiri konflik Palestina-Israel secara keseluruhan.

Pesan dan harapan agar negara-negara Arab bersatu dalam menghadapi isu internasional masalah Palestina perlu terus disuarakan baik melalui OKI maupun forum-forum lainnya. Suara dan dukungan Indonesia yang tulus tanpa tendensi apa-apa perlu didengar lebih nyaring oleh masyarakat dunia dalam mendukung dan pembela perjuangan bangsa Palestina hingga mencapai kemenangan.

Wallahu ‘alam bi-shawab.

*) Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Direktur Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

(and/ttcom)

Berita Lainnya
Kita tak Butuh Status Bencana Nasional, Kita Butuh Solidaritas Nasional Oleh: Fahd Pahdepie * JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Secara hati-hati saya bertanya kepada sejumlah pi...
Perang Dagang USA vs China Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Genderang perang Amerika Serika...
PKS Tidak Berkhianat Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform) Dinamika politik pasca pilkada serenta...
Menghargai Bangsa Sendiri Oleh: Shamsi Ali* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Ada banyak hal yang menjadikan mata kita terbelalak ...
Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia Oleh: Mayor Inf Suwandi* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak me...
Kanal: Opini