Loading...

Jadi Siapa Yang Ter-Pancasilais?

Oleh : Shiddiq Gandhi*

Tidak perlu banyak bersandiwara. Bisa dikatakan semua orang telah tahu bangsa kita today terpecah menjadi (minimal) dua kubu. Saling serang di berbagai media, saling caci, dan saling merendahkan dengan panggilan hina dina.

Jujur deh, yang dibela pasti kepentingan kelompok. Bukan negara. Bukan bangsa. Seolah kehebatan beropini dan menyindir menjadi legitimasi kemuliaan diri.

Kadangkala saya merenung hingga level menjastifikasi; pendidikan kita telah gagal! Maaf. Bukan saya menyalahkan atau tidak respect atas jerih payah para guru. Saya yakin banyak pendidik hebat di negeri ini. Guru-guru saya adalah orang-orang hebat. Sahabat-sahabat dan saudara saya juga banyak yang menjadi guru berprestasi. Tapi, melihat tingkah polah anak-anak bangsa ini, bolehkah jika nurani ini bertanya-tanya; apakah anak-anak ini sudah diajari tata krama? Entah di rumah. Entah di sekolah.

Keberhasilan menyudutkan lawan hingga skakmat seolah dianggap kemenangan. Tiada lagi yang peduli persoalan fitnah, ghibah, hasud, dan khianat. Tak lagi bersemi istilah menghias diri dengan rendah hati, hormat-menghormati, dan kejujuran pribadi. Setiap tulisan, sikap, dan perkataan melesat berbalut benci!

Ada yang memilih bersuara di jalur kanan. Ada yang berdiri garang di baris kiri. Sisanya memilih diam di ujung cakrawala.

Apakah kalian yakin kalau urusan negeri ini sepenuhnya dipikulkan kepada kalian maka kalian mampu berlaku adil, bijak, dan menjadi pengayom bagi kebahagiaan 250-an juta bangsa ini? Tidakkah kalian ingin bekerja sama, bahu-membahu dan bergandeng tangan berkolaborasi membangun peradaban tinggi di negeri ini? Siapa yang yakin kan hidup seribu tahun lagi? Bukankah setelah jasad ditelan bumi, tukang gali kubur menginjak-injak tanah peraduan terakhir, lalu seluruh keluarga dan pelayat pergi? Jasad di dalam tanah itu pun tak lagi diingat kecuali hanya beberapa saat hingga beberapa minggu kedepan.

Jika Pancasila diartikan sebagai ketakwaan kepada Sang Maha Pencipta; tentu bukti takwa ialah rajin ibadah, tepo seliro, andhap asor, rukun, mendamaikan, bermusyawarah, adil, beradab dan bertata krama, santun, peduli terhadap urusan sosial kemanusiaan….

Maka, siapa diantara bangsa kita yang paling Pancasilais?

Tunjukkan satu atau beberapa orang dari bangsa kita yang bisa dijadikan teladan, menjadi panutan, menjadi acuan bagi kita semua untuk menjadi bangsa yang besar! Tunjukkan! Supaya bangsa besar ini mempunyai standar hidup dalam sikap, perilaku, dan tutur kata. Yang ketika ia bicara maka aku, kamu, dia, dan mereka, semua tunduk patuh mendengar dan taat terhadap petuahnya. Ketika ia menyuruh kita berdamai maka kita sepakat damai.

Siapa yang paling Pancasilais yang sanggup menjadi penengah berbagai kepentingan ini? Supaya bangsa kita segera bangkit berjaya menjadi pelita bagi porak porandanya dunia. Kalau tidak bisa menunjukkan satu orang saja kepadaku, tentang siapa yang paling Pancasilais, maka bagaimana ada sementara pihak mengaku paling Pancasilais dan menuduh yang lain anti Pancasila?

Pancasila menghendaki kedekatan bangsa ini kepada Allah yang Maha Kuasa. Pancasila menghendaki mendamaikan dua saudara yang berselisih. Pancasila menghendaki keluarnya tutur kata dan munculnya sikap perbuatan yang bermartabat sebagai perwujudan bangsa yang beradab; bangsa yang berakhlak, bertata krama. Pancasila tidak menghendaki main hakim sendiri. Pancasila tidak menghendaki caci maki dan kata-kata kasar apalagi kotor. Pancasila menginginkan keadilan, kerukunan, kebersamaan, persahabatan, kekeluargaan, dan kejujuran.

Maka, siapakah yang paling Pancasilais?!
Sungguh, telah jenuh bangsa ini dijejali perang opini tiada henti.

*Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Khairun Ternate

(sur/ttcom)

Berita Lainnya
Kita tak Butuh Status Bencana Nasional, Kita Butuh Solidaritas Nasional Oleh: Fahd Pahdepie * JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Secara hati-hati saya bertanya kepada sejumlah pi...
Perang Dagang USA vs China Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Genderang perang Amerika Serika...
PKS Tidak Berkhianat Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform) Dinamika politik pasca pilkada serenta...
Menghargai Bangsa Sendiri Oleh: Shamsi Ali* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Ada banyak hal yang menjadikan mata kita terbelalak ...
Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia Oleh: Mayor Inf Suwandi* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak me...
Kanal: Opini