Loading...

Lewat Kebersamaan Kita Raih Kemenangan

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Ketua Majelis Syuro PKS Habib Salim Segaf Aljufri menjadi Khatib Shalat Idul Fitri di Masjid Al-Ittihad, Tebet Jakarta Selatan, Ahad (25/6/2017).

Berikut intisari khutbahnya:

Kebersamaan merupakan keniscayaan. Dengan kebersamaan kita akan raih kemenangan. Kebersamaan merupakan pintu menuju kemenangan. Ada tiga pilar yang mendasar yang akan saya sampaikan.

Yang pertama pilar adalah pilar akidah, yang kedua adalah pilar ukhuwah dan yang ketiga adalah pilar dakwah.Dan semua dijelaskan dalam Alquran surat Ali Imran ayat 102, 103 dan 104.

Yang pertama dijelaskan oleh Allah
يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim

Yang kedua yang berkaitan dengan ukhuwah, Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖ إِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ١٠٣

Dan yang ketiga adalah tentang dakwah. Perintah amar makruf nahi munkar. Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤

Tanpa kebersamaan kita tidak akan meraih kemenangan. Seluruh perintah agama dimulai dari kebersamaan. Kita bisa lihat di bulan suci Ramadhan kita bersama sama. Di penghujung Ramadhan, kaya maupun miskin pun bersama-sama mengeluarkan zakat fitrah. Dengan shalat bersama sama insya Allah shalat kita 99 persen diterima.

Jika kita melihat di sekeliling kita, sunnah kauniyah, Allah menciptakan mahluk yang bergerak bersama-sama. Alam semesta bergerak bersama sama. Tidak ada satu meteor pun bahkan benda luar angkasa pun bergerak sesuai keinginannya, mereka bergerak bersama-sama. Mulai binatang buas pun bergerak bersama-sama.

Sehingga baginda Rasulullah SAW mengingatkan jika keluar dari rombongan sama seperti kambing yang keluar dari rombongan akan diterkam oleh serigala.

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ

Katakanlah (wahai Muhammad Saw), inilah jalanku, aku mengajak manusia ke jalan Allah. Aku dan pengikut pengikutku.

Jadi, seluruh ciptakan Allah itu bergerak bersama-sama. Seluruh perintah Allah menggiring manusia agar bergerak bersama-sama.

Jika suami istri dan anak jika tidak bergerak bersama-sama. Maka tidak akan mendapatkan kebahagiaannya. Suami dengan gayanya, istri dengan kepentingannya dan anak dengan pertemanannya. Rumah tangga tersebut tidak akan meraih keberhasilan.

Puasa Ramadhan menggiring kita agar bergerak bersama. Mulai dari skup terkecil. Lihat diri kita bagaimana berinteraksi dengan rumah tangga, dengan masyarakat, dalam bernegara. Bahkan keberhasilan negeri ini akan didapat dengan kebersamaan. Dengan panggilan jihad, dengan panggilan Allahu Akbar! Merdeka atau syahid. Maka akan peroleh kemerdekaan.

Umat islam terbesar di dunia adalah di negeri ini. Saudara Islam seluruh dunia menanti. Kebersamaan apa yang bisa kita berikan kepada mereka. Jujur saja, kita bangsa dan umat terbesar belum mampu menjalankan perintah konstitusi kita. Salah satu terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia adalah kita memberikan kontribusi untuk terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia.

Kita lihat saudara kita yang di Timur Tengah. Suriah 16 juta penduduk , 12 juta pengungsi. Siapa mereka? Saudara-saudara kita. Belum di Irak, belum di Mesir, belum di Libya. Pertanyaan sederhana apa yang sudah dilakukan bangsa kita? Belum diukir di tinta emas sejarah dunia.

Kita melihat bagaimana baginda Rasulullah Saw. Pertama ketika beliau datang di kota Madinah dimana hegemoni ekonomi dikuasai oleh kelompok-kelompok Yahudi. Aus dan Khajraj selalu terjadi perkelahian dan peperangan di antara mereka. Diadu domba. Pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah mempersatukan antara Muhajirin dan Anshor.

Kekuatan pilar setelah pilar yang utama tadi akidah adalah ukhuwah.

Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan Saud bin Rabi’. Mereka berjabat tangan. “Inilah saudaramu, Abdurrahman bin Auf!”

Abdurrahman bin Auf adalah orang yang paling kaya di Makkah. Ia meninggalkan kekayaan demi berjuang di jalan Allah. Salah satu konsekuensi ia berhijrah bersama Rasulullah, Abdurrahman meninggalkan seluruh hartanya. “Labbaika, Ya Rasulullah!” walaupun konsekuensinya sisa pakaian di badan. Tidak punya apa-apa di Madinah. Setelah dipersaudarakan dengan Saud bin Rabi’, ia dicarikan istri untuk siap dinikahkan. Lihat bagaimana pengorbanan mereka.

Tanpa ada ukhuwah kita tidak bisa mengukir kebersamaan. Contoh-contoh lain sangat banyak yang diberikan oleh baginda Rasulullah SAW.

Mus’ab bin Umar, duta pertama Islam. Anak muda berusia 19 tahun. Tidak satu pintu di Madinah yang tidak diketuk oleh Mus’ab bin Umair. Usia 19 tahun! Dia sampaikan Islam. Ketika nabi datang ke Madinah, kota ini sudah Islam semua.

Kita lihat kebersamaan yang dirasakan oleh Mus’ab bin Umair dalam memperjuangkan Islam. Pemuda yang ganteng yang luar biasa. Ketika ibunya tahu anaknya masuk Islam, ibunya marah. Anak ini luar biasa cinta pada ibunya. “Wahai anakku. Jika engkau tidak kembali ke ajaran yang lama, aku tidak akan makan dan minum sampai mati!”

Karena sudah terpatri akidah di hatinya, kecintaan kepada Islam dan Rasulullah melebihi segalanya. Ia mengatakan, “Wahai ibuku tercinta, andai ibu punya seratus nyawa sekali pun dan keluar satu per satu, aku tidak akan meninggalkan ajaran yang dibawa baginda Rasulullah.”

Tidak mungkin akan kuat jika tidak memiliki akidah yang kuat.

Tanpa kebersamaan kita tidak akan bisa akan mengukir kemenangan di negeri ini. Contoh Pilkada kemarin di Jakarta. Yang gaungnya menasional bahkan mendunia. Demokrasi yang sederhana saja, yang dipahami suara terbanyak, yang mayoritas lah yang akan memimpin, itu sederhana. Itu tidak menyalahi Bhineka Tunggal Ika. Bahkan dalam persepsi Islam pun akan ditanyakan: siapa pemimpin kalian? Yang menyalurkan aspirasi kalian, tunjuk satu. Tanpa itu tidak mungkin ada kebersamaan. Yang terjadi adalah money politic dan cara-cara yang merusak kebersamaan dan stabilitas nasional bangsa ini.

Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Tidak mungkin akan tercipta kebersamaan tanpa fondasi madrasah Ramadhan yang kita bangun. Kebersamaan akan menjadi semu jika bukan Allah tujuannya. Jika fondasinya Ramadhan akan tercipta manusia muttaqin.

Madrasah Ramadhan akan menciptakan manusia yang akan mengutamakan kebersamaan. Tidak akan muncul kebersamaan jika tidak ada fondasi madrasah ramadhan yang kuat.

Kebersamaan harus kita pupuk dan kita jaga. Jangan biarkan tanaman tumbuh begitu saja. Maka kita membutuhkan taaruf, tafahum dan takaful.

Peganglah batang pohon. Jangan berpegang pada satu ranting nanti ranting itu patah. Batang pohon kita peluk bersama maka kita akan mendapatkan kesejukan, kita dapat buah yang lezat dan kita akan mendapatkan ukiran yang indah bangsa ini.

(humaspks/ttcom)

Berita Lainnya
Kita tak Butuh Status Bencana Nasional, Kita Butuh Solidaritas Nasional Oleh: Fahd Pahdepie * JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Secara hati-hati saya bertanya kepada sejumlah pi...
Perang Dagang USA vs China Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Genderang perang Amerika Serika...
PKS Tidak Berkhianat Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform) Dinamika politik pasca pilkada serenta...
Menghargai Bangsa Sendiri Oleh: Shamsi Ali* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Ada banyak hal yang menjadikan mata kita terbelalak ...
Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia Oleh: Mayor Inf Suwandi* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak me...
Kanal: Opini