Loading...

Membangun Indonesia Timur dengan Perspektif Peningkatan Daya Saing Daerah (1)

Muhammad Arfian, MBA

Pemimpin Umum Tajuktimur.com/CEO PT. Timur Pratama Tekhnik

Dalam laporan Asia Competitiveness Institute, Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura, tentang update tahunan ranking daya saing 33 provinsi dan 6 kawasan di Indonesia tahun 2017, Kawasan Indonesia Timur (dalam tulisan ini penulis menggunakan istilah “Kawasan Indonesia Timur” untuk menunjukkan wilayah dalam provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat) yang disebut Kawasan Maluku dan Papua pada laporan tersebut, menduduki ranking ke-6 dari kawasan-kawasan lain (Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Bali-Nusa Tenggara), dan keempat provinsi yang berada di dalam kawasan ini (Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat) berada di ranking-ranking terbawah (29-33) dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia.

Tabel 1: Peringkat dan Skor Daya Saing Kawasan di Indonesia: Daya Saing Keseluruhan

Peringkat Provinsi Skor 2017
2014 2015 2016 2017
1 1 1 1 Jawa 1,629
2 2 2 2 Kalimantan 0,534
3 3 3 3 Sulawesi 0,189
4 4 4 4 Sumatera -0,114
5 5 5 5 Bali dan Nusa Tenggara -0,615
6 6 6 6 Maluku dan Papua (Indonesia Timur) -1,623

Sumber: Asia Competitiveness Institute, 2017

Tabel 2: Peringkat dan Skor Daya Saing Provinsi di Indonesia: Daya Saing Keseluruhan

Peringkat Provinsi Skor 2017
2014 2015 2016 2017
1 1 1 1 DKI Jakarta 3,459
2 2 2 2 Jawa Timur 1,723
3 3 5 3 Kalimantan Timur (mencakup Kalimantan Utara) 1,303
4 5 3 4 Jawa Tengah 1,035
5 4 4 5 Jawa Barat 0,946
12 9 11 6 Banten 0,741
14 12 7 7 Bali 0,687
7 10 6 8 Sulawesi Selatan 0,557
6 6 10 9 DI Yogyakarta 0,423
11 7 12 10 Kepulauan Riau 0,399
8 8 8 11 Kalimantan Selatan 0,318
21 20 14 12 Sulawesi Tengah 0,270
15 13 13 13 Kalimantan Tengah 0,090
24 25 18 14 Lampung 0,061
17 22 23 15 Sumatera Barat -0,018
9 16 15 16 Riau -0,093
10 11 9 17 Sulawesi Utara -0,270
14 27 28 18 Jambi -0,296
28 27 21 19 Gorontalo -0,298
19 15 24 20 Sumatera Utara -0,304
18 19 17 21 Kalimantan Barat -0,308
20 30 20 22 Kep. Bangka Belitung -0,403
29 21 16 23 Sulawesi Tenggara -0,412
16 17 22 24 Sumatera Selatan -0,460
13 24 26 25 Aceh -0,526
22 26 19 26 Nusa Tenggara Barat -0,582
30 23 25 27 Bengkulu -0,595
25 18 30 28 Sulawesi Barat -0,597
23 29 29 29 Maluku -0,712
32 32 32 30 Nusa Tenggara Timur -1,238
33 31 31 31 Maluku Utara -1,304
31 33 33 32 Papua -1,706
26 28 27 33 Papua Barat -1,891

Sumber: Asia Competitiveness Institute, 2017

Jika melihat perkembangan ranking daya saing daerah kawasan dan provinsi di Kawasan Indonesia Timur, terlihat secara keseluruhan tidak terjadi pergerakan kenaikan ranking yang signifikan, bahkan bisa dikatakan keempat provinsi dalam Kawasan Indonesia Timur cenderung stagnan (Maluku Utara) atau bahkan menurun (Maluku, Papua Barat) rankingnya.

Hanya Papua yang memperlihatkan kenaikan ranking dari ranking 33 ke ranking 32 di tahun 2017, dan itu pun hanya bertukar tempat dengan saudara mudanya, Papua Barat, yang terpuruk dari ranking 27 di tahun 2016 ke ranking 33 di tahun 2017.

Ketika kita membaca lebih lanjut 4 komponen yang menjadi indikator daya saing daerah, yaitu stabilitas makro ekonomi, tata kelola pemerintah dan kelembagaan, kondisi keuangan, bisnis dan SDM, serta kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur, maka terlihat bahwa stabilitas makro ekonomi di Maluku Utara, tata kelola pemerintah dan kelembagaan di Papua Barat, kondisi keuangan, bisnis dan SDM di Papua Barat, dan kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur di Papua menduduki tempat terendah dari seluruh provinsi Indonesia, dan sangat membutuhkan perhatian untuk peningkatannya.

Sebelum melihat lebih jauh mengapa Kawasan Indonesia Timur berada di posisi daya saing seperti yang kita lihat di atas, ada baiknya jika kita memahami yang dimaksud dengan daya saing tersebut.

Definisi Daya Saing Kawasan/Daerah

Apa itu daya saing kawasan/daerah? Michael Porter, seorang profesor di Sekolah Bisnis Universitas Harvard, Amerika Serikat, telah mengembangkan teori mengenai daya saing perusahaan, industri, negara dan kawasan sejak tahun 1980-an. Menurutnya, daya saing suatu negara, kawasan atau daerah adalah produktifitas penggunaan sumber daya manusia, modal dan alamnya di negara/kawasan/daerah tersebut.

Produktifitas ini nantinya akan menentukan standar hidup berkelanjutan (upah, pengembalian atas modal, pengembalian atas sumber daya alam dll) suatu negara atau kawasan. Dengan adanya daya saing ini maka sebuah negara/ kawasan/daerah akan mencapai kemakmurannya.

Lebih lanjut lagi, sebuah negara atau kawasan dikatakan berdaya saing jika perusahaan-perusahaan yang lahir dan beroperasi di sana mampu bersaing dengan sukses, baik secara regional, nasional atau pun global dan negara atau kawasan itu mampu menjaga atau meningkatkan standar upah dan hidup rata-rata warganya.

Negara dan kawasan berkompetisi untuk menyediakan lingkungan bisnis yang paling produktif, dan baik sektor publik (pemerintah) dan privat (industri) memainkan peran yang berbeda tetapi saling berhubungan untuk menciptakan ekonomi yang produktif di negara/kawasan/daerah.

Kemampuan negara/kawasan/daerah menyediakan lingkungan bisnis yang kompetitif bagi perusahaan sehingga dapat berkegiatan dengan produktivitas yang tinggi dalam jangka panjang dan partisipasi yang tinggi dari warga di negara/kawasan tersebut akan melahirkan daya saing yang kemudian berlanjut pada kemakmuran di negara/kawasan tersebut.

Komponen Pembentuk Daya Saing Kawasan/Daerah

Ada tiga komponen yang membentuk daya saing suatu kawasan/daerah, yaitu anugerah alami, daya saing ekonomi makro dan daya saing ekonomi mikro.

Anugerah alami yang mencakup sumber daya alam, lokasi geografis, populasi dan luas lahan, merupakan fondasi untuk kemakmuran, tetapi kemakmuran yang riil tercipta melalui pemanfaatan anugerah alami tersebut secara produktif, yang terdiri dari dua faktor pembentuk daya saing lainnya.

Yang kedua adalah daya saing makro ekonomi yang terdiri dari kebijakan fiskal dan moneter pemerintah serta penjagaan kestabilan ekonomi yang baik, dan pembangunan sumber daya manusia (SDM), aturan hukum yang pasti dan lembaga publik yang efektif, menyiapkan konteks secara ekonomi agar produktifitas dapat dicapai, tetapi itu saja tidaklah cukup.

Faktor pembentuk daya saing yang ketiga adalah daya saing ekonomi mikro, yang terdiri dari kualitas lingkungan bisnis/usaha, kondisi pengembangan klaster industri, dan tingkat kerumitan/kecanggihan operasi dan strategi perusahaan yang ada di negara/kawasan tersebut. Produktivitas sebuah negara/kawasan pada akhirnya bergantung pada peningkatan kemampuan ekonomi mikronya.

Tingkat kerumitan/kecanggihan operasi dan strategi perusahaan adalah skill internal, kapabilitas dan praktek-praktek manajemen yang memungkinkan perusahaan untuk mencapai produktivitas level tertinggi dan terjadinya inovasi.

Kualitas kondisi bisnis eksternal mendukung produktivitas, inovasi dan pertumbuhan perusahaan melalui berbagai aspek, seperti aspek kompetisi usaha, aspek industri dan bisnis terkait, aspek pasar dan aspek input seperti sumber daya alam dan sebagainya.

Klaster industri adalah konsentrasi geografis dari perusahaan, supplier, dan lembaga terkait dalam bidang usaha tertentu (contoh: dalam industri pariwisata, otomotif dll) yang membuat perusahaan dapat berinovasi dan mencapai produktivitas.

Oleh Asia Competitiveness Institute ketiga komponen pembentuk daya saing ini diolah menjadi 4 indikator, yaitu stabilitas makro ekonomi, tata kelola pemerintah dan kelembagaan, kondisi keuangan, bisnis dan SDM, serta kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur, dan digunakan untuk mengukur daya saing 33 provinsi di Indonesia termasuk provinsi-provinsi dalam Kawasan Indonesia Timur.

BERSAMBUNG Baca juga : Membangun Indonesia Timur dengan Perspektif Peningkatan Daya Saing Daerah (2)

Berita Lainnya
Posisi Wagub DKI Jakarta Harus Terisi Secepatnya Oleh: Sapto Waluyo JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Sudah lebih dari empat bulan posisi Wakil Gubernur DKI...
NKRI: Ruang Publik yang Manusiawi? Oleh: Sapto Waluyo (Center for Indonesian Reform) Menjelang perhelatan besar demokrasi di Indonesia...
Kita tak Butuh Status Bencana Nasional, Kita Butuh Solidaritas Nasional Oleh: Fahd Pahdepie * JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Secara hati-hati saya bertanya kepada sejumlah pi...
Perang Dagang USA vs China Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Genderang perang Amerika Serika...
PKS Tidak Berkhianat Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform) Dinamika politik pasca pilkada serenta...
Kanal: Opini