Loading...

Membangun Indonesia Timur dengan Perspektif Peningkatan Daya Saing Daerah (2)

Muhammad Arfian, MBA

Pemimpin Umum Tajuktimur.com/CEO PT. Timur Pratama Tekhnik

Isu dan Tantangan Daya Saing Kawasan Indonesia Timur

Dengan anugerah alami berupa potensi alam yang begitu besar di Kawasan Indonesia Timur seperti mineral seperti tembaga, emas, nikel dan lainnya, laut dengan potensi perikanan yang sedemikian besar dan bahkan menjadi tempat tujuan migrasi ikan tuna, hutan yang luas dan penuh dengan berbagai jenis kayu dan tanaman lainnya, apa yang menyebabkan Kawasan Indonesia Timur terus berada di peringkat terbawah daya saing daerah di Indonesia?

Mari kita coba elaborasi mulai dari faktor-faktor yang menentukan daya saing kawasan/daerah: anugerah alami, daya saing ekonomi makro, dan daya saing ekonomi mikro.

Tantangan yang dihadapi oleh Kawasan Indonesia Timur terkait sumber daya alam yang dimilikinya adalah letaknya yang jauh dari pusat-pusat permukiman penduduk dan membutuhkan upaya yang besar untuk mencapai lokasi dan mengolahnya.  Tambang, hutan, kebun, dan potensi perikanan yang dimiliki kawasan berada di lokasi-lokasi yang tidak mudah dicapai dan belum ada jalan tembus yang bisa dilalui dengan mudah.

Ada lokasi pertambangan yang harus dicapai dengan berjalan kaki di hutan selama 10 jam lebih dengan medan yang cukup keras, kebun kakao yang ditinggalkan pemiliknya dan harus dicapai dengan berjalan kaki setengah hari lebih setelah menyeberang laut selama 2 jam, dan lainnya. Hal-hal ini menjadi tantangan terbesar dalam mengelola sumber daya alam yang menjadi anugerah bagi Kawasan Indonesia Timur.

Dari perspektif daya saing ekonomi makro, tantangan yang dihadapi oleh Kawasan Indonesia Timur adalah ekonomi yang bergantung sangat tinggi kepada sumber daya alam, terutama pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan. Kontribusi industri pengolahan masih kecil terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kawasan Indonesia Timur.

Ini ditambah dengan persentase penduduk miskin di kawasan ini. Papua misalnya, memiliki persentase penduduk miskin 23,12% yang merupakan dua kali lipat persentase penduduk miskin nasional pada tahun 2017 yang sebesar 10,12%). Dengan kondisi tersebut, dapat dipastikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di kawasan ini lebih rendah dari rata-rata IPM secara nasional yang mencapai 70,18.

Efektifitas lembaga publik di Kawasan Indonesia Timur juga menjadi tantangan yang tidak kalah seriusnya dibandingkan dengan masalah-masalah yang lain dari perspektif ekonomi makro. Indeks Persepsi Korupsi kota-kota di Kawasan Indonesia Timur seperti Jayapura dan Ternate termasuk yang paling rendah di antara kota-kota lain di Indonesia.

Artinya, masyarakat dan pelaku usaha masih melihat dan merasakan tingginya budaya korupsi dalam pengelolaan pemerintahan di kota-kota tersebut dan mengharapkan adanya perbaikan yang signifikan, sehingga Indeks Persepsi Korupsi di sana membaik.

Dari perspektif daya saing ekonomi mikro, salah satu permasalahan terbesar yang dihadapi Kawasan Indonesia Timur terkait lingkungan eksternal bisnis yang menentukan daya saing ekonomi mikro adalah masih belum siapnya infrastruktur dasar. Penulis sewaktu mengurus BUMD di salah satu kabupaten kepulauan di Maluku Utara pernah didatangi pengusaha rumput laut dari Jepang yang ingin mencari alternatif lokasi budi daya selain di Sulawesi Selatan.

Ketika dia datang ke lokasi yang potensial untuk jadi lokasi budidaya rumput laut, dia menanyakan tentang bagaimana suplai listrik, bagaimana cara telekomunikasinya, di mana nanti rumput lautnya akan dikapalkan dan pertanyaan-pertanyaan lainnya tentang infrastruktur dasar yang sayangnya belum dapat terjawab dengan memuaskan karena kondisi infrastruktur di sana belum memenuhi harapannya. Ketiadaan infrastruktur dasar yang memadai di Indonesia Timur sudah sering kita dengar, tetapi apakah memang itu masalahnya?

Kalau kita melihat lebih jauh, listrik dan telekomunikasi adalah infrastruktur yang pembangunannya dikendalikan oleh institusi di pusat, bukan oleh daerah. Pemerintah daerah mungkin bisa mengajukan permintaan, tetapi akhirnya yang memutuskan adalah di pusat, dan kondisi ini berlanjut sampai saat ini. Inilah permasalahan mendasar yang harus segera dipecahkan.

Klaster industri yang belum berkembang di Kawasan Indonesia Timur juga merupakan faktor yang berpengaruh besar pada daya saing kawasan ini. Memang saat ini sudah ada beberapa industri besar yang beroperasi di Kawasan Indonesia Timur, seperti PT. Freeport Indonesia di Papua yang menambang tembaga dan emas, British Petroleum yang menambang migas di Papua Barat, PT. Antam dan PT. Newmont Halmahera Mining di Maluku Utara yang menambang nikel, tembaga dan emas, dan juga perusahaan-perusahaan kehutanan yang beroperasi di seluruh provinsi dalam Kawasan Indonesia Timur.

Tetapi keberadaan mereka belum diikuti dengan keberadaan perusahaan-perusahaan lokal yang menyuplai produk dan jasa utama yang mereka butuhkan. Saat ini pemasok kebutuhan utama mereka untuk beroperasi seperti pemasok alat-alat berat dan teknologi utama lainnya adalah perusahaan-perusahaan dari luar Kawasan Indonesia Timur.

Jika pun ada perusahaan-perusahaan lokal yang menyuplai kebutuhan perusahaan-perusahaan tersebut, hanya produk dan jasa yang tidak membutuhkan teknologi dan keterampilan yang tinggi dalam memproduksinya (contoh: makanan, bongkar muat barang sederhana, jasa pengamanan dan lain-lain). Bahkan di beberapa perusahaan, untuk memasok makanan saja dilakukan dari luar Kawasan Indonesia Timur.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Dari isu dan tantangan yang dihadapi Kawasan Indonesia Timur dalam meningkatkan daya saingnya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar Kawasan Indonesia Timur bisa beranjak dari posisi terendah daya saing kawasan se-Indonesia sebagai berikut:

  1. Mendesain pembangunan daerah di Kawasan Indonesia Timur dengan perspektif peningkatan daya saing kawasan secara bersama, bukan secara individual oleh masing-masing provinsi. Untuk itu pemerintah provinsi di Kawasan Indonesia Timur harus membangun kolaborasi yang kuat antar provinsi di Kawasan Indonesia Timur untuk mendesain pembangunan di kawasan ini, dengan inisiatif dari seluruh stakeholder di kawasan ini, jangan menunggu koordinasi dari pemerintah pusat. Dengan berkolaborasi, seluruh provinsi dan daerah di Kawasan Indonesia Timur dapat menyepakati perannya masing-masing dan saling berkontribusi dalam meningkatkan daya saing daerah secara nasional.
  1. Tingkatkan faktor-faktor pembentuk daya saing yang bisa dikendalikan sendiri (tidak bergantung pada pemerintah pusat) secara prioritas
    1. Bangun dan perbanyak SDM yang mumpuni di berbagai bidang. Sudah banyak contoh bagaimana pemerintah daerah di Kawasan Indonesia Timur meningkatkan kapasitas SDM-nya melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi di daerahnya.
    2. Misalnya, di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Bupati Muhammad Kasuba (periode 2005-2016) mendirikan 3 perguruan tinggi (Sekolah Tinggi Pertanian Labuha, Sekolah Tinggi Agama Islam Alkhayraat dan Politeknik Halmahera) di kabupatennya agar SDM di sana dapat meningkatkan kapasitasnya melalui pendidikan tinggi. Belum lagi daerah-daerah di Papua yang memberikan beasiswa kepada mahasiswanya untuk belajar ke luar daerah bahkan sampai ke luar negeri. Best practices (praktek-praktek terbaik) Ini perlu terus dilaksanakan dan ditingkatkan oleh pemerintah-pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Kawasan Indonesia Timur, sehingga Kawasan Indonesia Timur bisa memiliki SDM berkapasitas dan berketrampilan tinggi lebih banyak lagi ke depannya.
    3. Lakukan reformasi atau bahkan revolusi dalam perbaikan tata kelola pemerintahan dan birokrasi, sehingga apa yang dikerjakan pemerintah daerah di kawasan ini benar-benar tepat sasaran dan dilakukan secara benar dan baik. Dengan memperbaiki tata kelola pemerintahan berarti juga memperbaiki iklim usaha di Kawasan Indonesia Timur yang memudahkan pelaku usaha untuk berinvestasi, berusaha dan berkontribusi dalam mewujudkan kemakmuran bagi Kawasan Indonesia Timur. Sebaliknya, tata kelola pemerintahan yang korup, tidak efisien dan efektif hanya akan mendemotivasi pelaku usaha untuk masuk ke Kawasan Indonesia Timur.
  1. Tetapkan apa yang ingin diminta kepada pemerintah pusat untuk membangun daerah dalam meningkatkan daya saing Kawasan Indonesia Timur, dan negosiasikan secara bersama. Melalui perencanaan bersama, pemerintah provinsi di Kawasan Indonesia Timur dapat memiliki rencana pembangunan kawasan secara terpadu, menetapkan industri andalan apa yang bisa menjadi motor penggerak ekonomi kawasan secara keseluruhan dan membangun klasternya, infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendorong tumbuhnya klaster industri tersebut dan SDM dengan kapasitas dan ketrampilan apa yang harus dimiliki agar sumber daya manusia yang ada di kawasan dapat diberdayakan secara optimal. Rencana bersama inilah yang harus dibawa ke pemerintah pusat dan dinegosiasikan secara optimal agar program pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat di kawasan ini benar-benar tepat sasaran, sesuai dengan yang direncanakan.

Jika ketiga hal di atas mulai dipikirkan dan dilaksanakan secara bertahap, bukan tidak mungkin Kawasan Indonesia Timur dapat meningkatkan daya saingnya dan bahkan bisa mengungguli kawasan-kawasan lainnya di Indonesia.

Baca Juga:  Membangun Indonesia Timur dengan Perspektif Peningkatan Daya Saing Daerah (1)

Berita Lainnya
Posisi Wagub DKI Jakarta Harus Terisi Secepatnya Oleh: Sapto Waluyo JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Sudah lebih dari empat bulan posisi Wakil Gubernur DKI...
NKRI: Ruang Publik yang Manusiawi? Oleh: Sapto Waluyo (Center for Indonesian Reform) Menjelang perhelatan besar demokrasi di Indonesia...
Kita tak Butuh Status Bencana Nasional, Kita Butuh Solidaritas Nasional Oleh: Fahd Pahdepie * JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Secara hati-hati saya bertanya kepada sejumlah pi...
Perang Dagang USA vs China Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Genderang perang Amerika Serika...
PKS Tidak Berkhianat Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform) Dinamika politik pasca pilkada serenta...
Kanal: Opini