Loading...

Rohingya, “Palestina Kecil” Di Benua ASEAN

Oleh: M. Nasir Pariusamahu*

Untukmu untaian kata mulia ini kami tuliskan. Meski dunia berbohong dan mati mata melihat rumahmu di bakar, anak-anakmu ditenteng  seperti hewan ternak, para wanita-wanitamu tak berhak melahirkan, bayi tanpa ayah.  Disini kami masih punya rasa, sebab kami adalah saudara.

Rohingya, sejak sejarahnya ditimbun oleh dinasti pemerintahan di Myanmar, kita senantiasa mendengar angin kesengsaraan dari wilayah “bertuan tapi tidak bertanah”. Kikisan intimidasi mengeruk  leher dan lambung para kaum Arakan ini.

Tak mesti kita berbicara lagi tentang kecaman dan penentangan. Lebih dari  itu etnik Rohingya memerlukan identitas kemerdekaan berserikat, berpendapat, berkeyakinan sesuai agama yang dianut. Bukankah itu hak setiap warga negara di dunia ini untuk mendapatkannya?

Sejak pencabutan hak kemanusian oleh junta militer yang berkuasa tahun 1978, orang Rohingya terus menerus menderita akibat pencabulan hak kemanusiaan. Akibatnya, banyak yang melarikan diri ke berbagai negara tetangga.

Mosi tak percaya terhadap bekas jajahan Britania Raya ini, hilang seiring dengan “ketidakpedulian”. Budaya kekerasan seakan menjadi makanan harian di Myanmar. Seperti tak ada lagi masa depan bagi manusia-manusia kapal. Nurani mereka tetap hidup walau jasad mereka dibakar, dibuang.

Demikian beberapa tragedi atas ketidakperikemanusiaan yang terjadi di Rohingya, kita tidak dapat melihat dari satu kacamata saja. Ternyata  bukan sekedar soal tanah dan perbedaan agama, ataupun suku. Melainkan Iblis berkedok agama yang kelaparan.

Rohingya, sepertilah “Palestina Kecil”. Dimana-mana ada yang merenggang nyawa. Airmata tak habis siang malam. Hanya karena keangkuhan penguasa, yang takut terhadap “sejarah”. Padahal, kemenangan dalam sejarah itu ada korelasinya dengan kesabaran. Berbeda dengan Palestina di tanah Arab. Rohingya, tak pernah membalas dengan senjata. Kesabaranlah yang menjadi perisai mereka.

Banyak yang diperoleh dari makna kesabaran. Lihatlah kemampuan Bangsa Rohingya tak mengenal putus asanya dalam bertahan dalam kepungan penindasan.

“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang”. (QS al Mukminuun : 111)

Ternyata Demokrasi Tak Ada Asasi

Myanmar sejak akhir 2015, banyak yang berharap bahwa perjuangan pahlawan demokrasi di negara itu, Nyonya Aung San Suu Kyi bisa menstabilisasikan keadaan negaranya. Alhasil, hingga kini, sekat ketegangan itu masih menjadi status darurat.

Jadi apa akar masalahnya? Rohingya masih menjadi wadah tembakan peluru-peluru ketidakadilan, hanya karena mereka tidak terdaftar dalam sensus penduduk negeri Myanmar.

Atau ada alasan lain? Tapi sungguh tidak masuk akal. Bilamana intoleransi menjadi benalu dalam negeri sendiri. Dari sini, bagi siapapun yang sedang mabuk kekuasaan dan bermimpi akan berkuasa selamanya, harap dicamkan petuah bapak bangsa dan Presiden RI pertama Ir Soekarno, “Kekuasaan seorang presiden ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng adalah kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”.

Disayangkan juga, sebagai salah satu penegak demokrasi, Aung San Suu Kyi  harus bertindak sebagaimana dilambangkan pada sosok ‘Catulokapâla’. Dewa yang  dipercayai sebagai pelindung alam manusia dari segala keangkaramurkaan. Jika kita menyeberangi ide tentang hal yang sama, kita mengingat sosok dari alam benua sama, India.

Vokalnya tentang ajaran Ahimsa menjadi kekuatan bagi harmonisasi. Bahwa  hidup sekedar “tidak menyakiti”, tetapi menurut Ghandi pengertian seperti itu belum cukup, menurutnya Ahimsa berarti menolak keinginan untuk membunuh  dan tidak membahayakan jiwa, tidak menyakiti hati, tidak membenci, tidak membuat marah, tidak mencari keuntungan diri sendiri dengan meperalat serta mengorbankan  orang lain.

Dari pemaknaan di atas dapat terlihat bahwa makna Ahimsa lebih menekankan pada makna penolakan atau penghindaran secara total terhadap segenap keinginan, kehendak atau tindakan yang mengarah pada bentuk penyerangan atau melukai. Persoalannya adalah apakah sudah matikah rasa dan cinta “Myanmar?”

Maka, detik ini kami ingatkan kepada bangsa “tanpa agama” di Myanmar, penindasan ini bukanlah akhir cerita “terusir”. Tak lihatlah kau akan kebangkitan cinta jiwa “orang terbuang” dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk karya Buya Hamka?

*Pengurus KAMMI Maluku.

Berita Lainnya
Posisi Wagub DKI Jakarta Harus Terisi Secepatnya Oleh: Sapto Waluyo JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Sudah lebih dari empat bulan posisi Wakil Gubernur DKI...
NKRI: Ruang Publik yang Manusiawi? Oleh: Sapto Waluyo (Center for Indonesian Reform) Menjelang perhelatan besar demokrasi di Indonesia...
Kita tak Butuh Status Bencana Nasional, Kita Butuh Solidaritas Nasional Oleh: Fahd Pahdepie * JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Secara hati-hati saya bertanya kepada sejumlah pi...
Perang Dagang USA vs China Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Genderang perang Amerika Serika...
PKS Tidak Berkhianat Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform) Dinamika politik pasca pilkada serenta...
Kanal: Opini