Loading...

Soal Bully Disabilitas, Lembaga Pendidikan Jangan Lepas Tangan

“Saking seriusnya, sampai ada yang melakukan bullycide — suicide yang diakibatkan oleh penderitaan tak tertahankan akibat menjadi korban bully,” Kata Reza, Senin (17/7).

“Siapa yang rentan menjadi korban bully di sekolah atau kampus? Siswa dengan prestasi terendah, siswa dengan prestasi tertinggi, siswa junior, siswa dengan disabilitas, siswa dengan kondisi fisik maupun psikis berbeda,” paparnya.

Reza menambahkan, kendati kita dukung sepenuhnya sistem pendidikan inklusi, namun sebetulnya memang tidak mudah bagi sekolah maupun kampus ketika memutuskan menerima siswa dengan kondisi disabilitas.

“Butuh kesiapan SDM, sarana, prasarana, dan aturan main yang suportif terhadap siswa dengan disabilitas. Penerimaan terhadap siswa dengan disabilitas harus mengendap sebagai mindset seluruh warga sekolah/kampus, begitu azas fundamentalnya,” tegasnya.

Menurut Pakar Psikologi Forensik Universitas Indonesia (UI) tersebut, dari perspektif itu pula kasus bully di kampus (yang viral di medsos) sepatutnya ditangani. Artinya, disamping pertanggungjawaban individual yang harus dibebankan kapada siswa pelaku bully, lembaga pendidikan seyogianya tidak berlepas tangan.

“Inilah momentum pematangan sistem akreditasi sekolah/kampus. Takar ulang dan lebih serius kesiapan sekolah/kampus menerima siswa dengan disabilitas sesuai alinea diatas. Ini pula manifestasi kepedulian atau perlindungan khusus bagi anak-anak, sebagaimana isi UU Perlindungan Anak,” ungkapnya.

Sementara itu, disamping masalah bully, ada potensi pelanggaran hukum lainnya yang tak kalah serius, yaitu penyebarluasan viral berita yg menampilkan wajah siswa-siswa tersebut.

“Apalagi jika mereka masih berusia kanak-kanak, sesuai UU Sistem Peradilan Pidana Anak, wajah dan identitas mereka harus ditutup,” pungkasnya.

Semoga masalah ini segera teratasi setuntas dan sebijaksana mungkin. Apa pun jalannya, mudah-mudahan siswa-siswa lain di lembaga pendidikan dimaksud tidak terkena imbas, tutupnya.

(msradio/and)

Berita Lainnya
Kita tak Butuh Status Bencana Nasional, Kita Butuh Solidaritas Nasional Oleh: Fahd Pahdepie * JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Secara hati-hati saya bertanya kepada sejumlah pi...
Perang Dagang USA vs China Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Genderang perang Amerika Serika...
PKS Tidak Berkhianat Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform) Dinamika politik pasca pilkada serenta...
Menghargai Bangsa Sendiri Oleh: Shamsi Ali* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Ada banyak hal yang menjadikan mata kita terbelalak ...
Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia Oleh: Mayor Inf Suwandi* JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM —- Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak me...
Kanal: Opini