Loading...

PWI Papua Barat Desak Kepolisian Ungkap Pelaku Pengeroyokan Wartawan

MANOKWARI, TAJUKTIMUR.COM — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Papua Barat mendesak aparat kepolisian setempat untuk menangkap para pelaku pengeroyokan terhadap salah satu wartawan Radar Papua (Jawa Pos Group), Nofryanto Terok, ketika tengah melakukan tugas peliputan peristiwa kebakaran sepeda motor, di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Jalan Yos Sudarso Sanggeng, Manokwari, Selasa (5/6) lalu.

Ketua PWI Provinsi Papua Barat,  Buztam, mengatakan, kekerasan terhadap wartawan dalam menjalan tugas peliputan telah melanggar ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Tindakan kekerasan yang dilakukan sekelompok massa tersebut, adalah perbuatan melawan hukum dan mengancam kebebasan pers.

“Kita desak kepolisian untuk menangkap pelaku dan segera diadili sesuai hukum dan ketentuan yang berlaku, karena Novri sedang melakukan tugas peliputan,” kata Buztam.

Dia menjelaskan, seorang jurnalis dilindungi oleh undang-undang ketika melakukan tugas dan tidak boleh dihalang-halangi oleh siapapun. Di dalam UU Pers menyebutkan, kegiatan jurnalistik yang meliputi pencarian bahan berita, memperoleh informasi, memiliki, mengumpulkan data, mengolah hingga mempublikasikan sudah diatur dalam Pasal 8 UU Pers Tahun 1999. Dalam pasal tersebut jelas menyatakan bahwa jurnalis dalam profesinya mendapat perlindungan hukum.

“Perampasan alat liputan dan pemukulan kepada wartawan bisa dijerat dengan Pasal 18 UU Pers. Adapun ancaman ukuman pidana penjaranya dua tahun atau denda Rp500 juta,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Papua Barat, Chanry Andrew Suripatty mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompk warga terhadap Nofryanto Terok ketika sedang  melakukan peliputan peristiwa kebakaran di komplkes sanggeng Manokwari.

“Ini tindakan yang sangat keji dan saya sangat mengecam peristiwa yang dilakukan oleh sejumlah oknum warga di Manokwari.  Kasus ini harus diproses hukum, apapaun alasannya tindakan kekerasan terhadap pekerja pers yang sedang menjalankan tugas tidak dibenarkan,”  tegasnya.

IJTI Papua Barat akan membuat laporan lengkap setelah mengumpulkan seluruh informasi dari jurnalis yang menjadi korban tersebut, serta melaporkan kepada  Satgas Anti Kekerasan Dewan Pers untuk mendapatkan advokasi dan penyelidikan atas tindakan yang dilakukan sejumlah oknum warga itu.

“IJTI mengimbau semua pihak agar menghormati profesi jurnalis yang dilindungi undang-undang,” katanya.

Berita Lainnya
Ratusan Guru di Teluk Wondama belum Bersertifikat WASIOR, TAJUKTIMUR.COM - Ratusan guru di wilayah Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, belu...
Kemendes dan PDT Kembangkan Agrowisata Kampung Dusner Teluk Wondama WASIOR, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes dan PDT) akan...
Wabup Indubri: 10,79 Persen APBD Teluk Wondama untuk Pendidikan WASIOR, TAJUKTIMUR.COM - Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat mengalokasikan 10,79 persen...
Kemendag Jamin Harga Bahan Pokok di Papua Barat Terkendali SORONG, TAJUKTIMUR.COM - Kementerian Perdagangan menjamin harga serta stok bahan pokok atau bapok di...
Gempa 4,3 SR Guncang Manokwari, Tidak Berpotensi Tsunami MANOKWARI, TAJUKTIMUR.COM - Wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Sabtu (8/12) diguncang gempa b...
Kanal: Papua Barat