Loading...

Asprov PSSI Papua Nilai Edy Ramayadi Bersikap Satria

JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM – Wakil ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Rocky Bebena menilai pengunduran diri Edy Ramayadi dari jabatan Ketua Umum PSSI menunjukkan sikap seorang satria dan sportif.

“Itu sebuah sikap ksatria dari beliau dan sangat baik untuk kepentingan PSSI yang lebih besar,” katanya via pesan singkat menjawab pertanyaan Antara di Jayapura, Minggu malam.

Dia berharap dengan pengunduran diri Edy Ramayadi dari jabatan Ketua Umum PSSI, sepak bola di tanah air bisa lebih maju dan berkembang, yang tentunya harus ditunjukkan dan dibuktikan penerusnya.

“Harus lebih baik dan sesuai statuta maka anggota exco yang tertua (Waketum) naik jadi pelaksana tugas ketua,” katanya.

Mengenai penunjukkan Joko Driyono (Jokdri) sebagai Plt Ketua PSSI, mantan redaktur olah raga pada harian terkemuka di Papua itu, mengaku sependapat.

“Kita hanya merujuk pada statuta. Jika ketua mundur, maka yang lebih dituakan atau wakilnya yang akan melanjutkan,” katanya.

Mengenai wacana KLB PSSI, sekretaris umum (Sekum) tim Persipura Jayapura itu mengaku belum sependapat karena pada tahun ini ada agenda nasional yang bisa menyita perhatian dan waktu.

“Jika gelar KLB, saya rasa tidak tepat waktu karena ada agenda nasional yang lebih besar pada tahun ini, sudah pastinya akan menguras tenaga, perhatian dan waktu. Saya kira harus dipertimbangkan secara matang,” kata Rocky.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi menegaskan, keputusannya untuk mundur dari jabatan ketua umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) adalah keputusan terbaik yang terbaik untuk bangsa Indonesia.

“Tidak ada yang menekan saya untuk mundur. Ini adalah keputusan yang terbaik untuk bangsa,” ujar Edy usai menyampaikan pidato pengunduran dirinya dalam kongres tahunan PSSI di kawasan Nusa Dua, Badung, Bali, Minggu.

Menurut mantan Pangkostrad itu, memimpin PSSI menjadi tantangan paling sulit yang dihadapi dalam hidupnya.

Dia mengakui dalam beberapa hal dirinya gagal membawa PSSI menjadi lebih baik sejak memimpin tahun 2016.

“Sudah dilarang mengatur skor, terjadi pengaturan skor. Ada perkelahian juga. Itu kan berarti saya gagal. Jangan sampai karena satu atau dua orang PSSI terganggu. Mari kita doakan pemimpin berikutnya lebih jaya,” tutur Edy.

Berita Lainnya
Papua Gunakan Sistem Noken dalam Pemilu 2019 JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Sebanyak 12 kabupaten di Papua, dalam pemilu 17 April mendatang masih men...
PMI Percepat Penanggulangan Bencana Banjir di Sentani JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Palang Merah Indonesia (PMI) berupaya mempercepat penanggulangan bencana ...
BSMI: Warga Sentani Masih Perlu Bantuan Hidup Dasar TAJUKTIMUR.COM, Sentani -- Korban banjir besar di Sentani, Papua masih membutuhkan bantuan kehidupa...
Ini Usulan Langkah Strategis Selesaikan Konflik Separatis di Papua JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Serangan kelompok separatis bersenjata di Papua kembali menelan korban 3 o...
KKB Kembali Menyerang, Ini Penjelasan Kapuspen TNI JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sisriadi mengatakan pasukan ...
Kanal: Papua