Loading...

Dinkes: Angka Kasus Filariasis di Mimika Tinggi

TIMIKA, TAJUKTIMUR.COM – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua melaporkan, angka kasus filariasis atau kaki gajah di wilayah itu masih tinggi di atas dua persen sehingga seluruh penduduk setempat dalam lima tahun ke depan diwajibkan meminum obat untuk mencegah penyakit itu.

“Mimika termasuk salah satu daerah endemis kasus filariasis berdasarkan hasil penelitian Kemenkes sekitar tahun 2004. Temuan kasus filariasis terbanyak di Mimika yaitu di Kampung Iwaka SP7 (Mulia Kencana). Angka kasus filariasis di Mimika masih diatas dua persen,” kata Sekretaris Dinkes Mimika Reynold Ubra di Timika, Sabtu.

Sehubungan dengan itu, pada awal pekan depan Pemkab Mimika menggelar kegiatan kampanye minum obat massal atau Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) penyakit filariasis kepada warga Mimika yang dilaksanakan di Kantor Bupati.

“Selama lima tahun berturut-turut setiap orang di Mimika setahun sekali meminum obat untuk mencegah penyakit filariasis. Apalagi vektornya ada di sini, sehingga minum obat massal ini merupakan solusi untuk mengeliminasi kasus filariasis di Mimika,” jelas Reynold.

Kemenkes menargetkan Indonesia sudah bebas atau tereliminasi dari penyakit filariasis pada 2020.

Beberapa daerah lain di Indonesia sejak 2017 telah bebas dari kasus filariasis, frambusia, kusta, rubela dan campak.

Menurut Reynold, minum obat untuk cegah massal kasus filariasis dilakukan terhadap semua orang di Mimika, terkecuali ibu hamil, balita di bawah usia dua tahun dan pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Papua Yamamoto Sasarari mengatakan penyebaran mikrofilaria di Mimika sudah lebih dari satu persen, sehingga masuk kategori sebagai daerah endemis filariasis.

Pada 2017, katanya, ditemukan tiga warga Mimika positif tertular penyakit filariasis. Sedangkan pada 2007 ditemukan lebih dari 10 kasus filariasis di Mimika.

Penentuan suatu daerah masuk kategori endemis filariasis ditetapkan oleh badan kesehatan dunia atau WHO.

“Kalau ada temuan satu kasus filariasis saja, maka konsekuensinya semua penduduk di satu kabupaten itu harus minum obat,” kata Yamamoto.

Dinkes Papua telah mendistribusikan obat ke daerah-daerah, terutama daerah yang masuk kategori endemis untuk melakukan program minum obat secara massal, guna menghindari dari penularan penyakit filariasis.

Penyakit filariasis disebabkan oleh cacing mikro yang ditularkan ke orang lain melalui gigitan nyamuk.

Dari 29 kabupaten/kota di Papua, terdapat lima kabupaten yang telah berhasil mengeliminasi filariasis, yaitu Merauke, Mappi, Boven Digul, Supiori dan Mimika.

Berita Lainnya
Pemkab Biak Numfor Larang Pejabat OPD Keluar Daerah BIAK, TAJUKTIMUR.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Biak Numfor, Papua, melarang pejabat pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) keluar daerah selama persiapan sidang...
TNI Gelar Pengobatan Massal di Tingginambut PUNCAK JAYA, TAJUKTIMUR.COM - Tim Pembinaan Masyarakat TNI/Polri bersama dengan Kodim 1714/Puncak Jaya menggelar bakti sosial berupa pengobatan massal dan pembagian paket...
Polda Papua Kirim Tim Kesehatan ke Sulteng JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Kepolisian Daerah (Polda) Papua mengirimkan tim kesehatan dan trauma healing atau psikologi untuk membantu warga Palu, Sigi, dan Donggala, di S...
Polres Paniai Siap Amankan PSU di Deiyai JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Polres Paniai siap mengamankan pemungutan suara ulang (PSU) di dua distrik di Kabupaten Deiyai, Papua, yang dijadwalkan pada Selasa (16/10). ...
DPRD Biak Numfor Diminta Sahkan Raperda Pengelolaan Sampah BIAK, TAJUKTIMUR.COM - Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kabupaten Biak Numfor, Papua didesak untuk segera mengesahkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang ...
Kanal: Papua