Loading...

KLHK Gagalkan Penyeludupan Ratusan Satwa Awetan Dilindungi di Papua

JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Minggu melakukan upaya penegakan hukum terhadap peredaran satwa dilindungi, salah satunya terkait kasus penyelundupan ratusan opsetan (hewan yang diawetkan) dari berbagai jenis satwa dilindungi di wilayah Maluku dan Papua.

Saat ini Tim Penyidik Balai Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK Wilayah Maluku – Papua, telah siap menyerahkan berkas tersangka WJM (43), dan barang bukti opsetan satwa dilindungi, kepada Kejaksaan Tinggi Papua.

Penyerahan berkas dan barang bukti tersebut akan dilakukan setelah libur Hari Raya Idul Fitri nanti.

“Upaya proses yustisi ini adalah upaya penegakan hukum untuk melindungi sumber daya alam di wilayah kerja Balai Gakkum Maluku Papua,” kata Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Maluku – Papua AG Marthana.

WJM adalah seorang warga negara asing (WNA) dari Amerika Serikat, yang tertangkap tangan di Bandara Sentani pada 13 Januari lalu, saat mencoba menyelundupkan ratusan opsetan satwa dilindungi.

Dari penangkapan tersebut, diperoleh barang bukti berupa 220 opsetan berbagai jenis burung, dua opsetan tikus, satu opsetan kuskus, 34 lembar kulit satwa mamalia, dan lima lembar kulit reptil.

“Atas kejahatan ini, penyidik menetapkan WJM sebagai tersangka, dengan ancaman penjara paling lama 5 tahun, dan denda paling banyak 100 juta rupiah, karena telah melanggar Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Pasal 21 Ayat 2 Huruf b, c, dan d juncto Pasal 40 Ayat 2,” ungkap Marthana.

Sementara di Sulawesi, Balai Gakkum Sulawesi melakukan penyidikan atas kasus kapal pembawa kayu ilegal yang ditahan Bea Cukai Unit Operasi Pantoloan pada 2 Juni.

Penahanan kapal ini dilakukan di perairan Tanjung Mangkaliat, karena adanya muatan kayu meranti campuran dan kayu ulin sebanyak 40 meter kubik tanpa dokumen sah.

Setelah itu, Bea Cukai Pantoloan menyerahkan Kapal KLM Citra Niaga diserahkan ke Balai Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi (04/06/2018).

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, diketahui bahwa KLM Citra Niaga tidak memiliki dokumen Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan Kayu (SKSHHK), faktur Angkutan kayu Olahan (FA KO) yang ada diduga palsu, tidak ada Surat Persetujuan Berlayar, dan tiga orang tidak terdaftar sebagai penumpang atau sebagai anak buah kapal,” urai dia.

Marthana menambahkan, nahkoda KLM Citra Niaga mengakui muatan kayu berasal dari Tanjung Mangkaliat dan akan dibawa ke Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Dengan demikian, nahkoda sekaligus pemilik KLM Citra Niaga ini, terancam hukuman pidana penjara minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun, dan denda minimal 500 juta rupiah dan maksimal Rp. 2.5 miliar rupiah.

Pelaku diduga melanggar Pasal 83 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, serta Pasal 33 Undang-Undang No 17 Tahun 2008 tentang Perlayaran.

Berita Lainnya
KPU Mimika Belum Terima Semua Surat Suara TIMIKA, TAJUKTIMUR.COM —- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mimika, Provinsi Papua belum menerima semua surat suara yang akan digunakan untuk pemi...
Polisi Belum Ketahui Pelaku Penembakan Pesawat di Kenyam JAYAWIJAYA, TAJUKTIMUR.COM —- Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Reba mengakui pihaknya belum mengetahui pelaku penembakan pesawat twin otter milik Demonim ...
Pesawat Demonim Ditembak OTK di Kenyam, Papua JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM —- Pesawat Demonim dengan nomor penerbangan PK-HVU, ditembak orang tak dikenal (OTK) saat hendak mendarat di Kenyam, Ibu Kota...
Massa Merusak Kantor Disdik Timika TIMIKA, TAJUKTIMUR.COM —- Sekelompok massa melakukan pengrusakan kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Mimika, Provinsi Papua di Timika, Jumat. ...
Disdukcapil: Baru 37 Persen Pemilih di Papua Miliki e-KTP JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM -- Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Papua Ribka Haluk mengatakan dari 3,4 juta pemilih di Papua yang memiliki E KT...
Kanal: Papua