Loading...

Mengenal Oksibil, Kopi Pengunungan Papua

TAJUKTIMUR.COM — Berwarna hitam pekat, terasa pahit di mulut, tetapi meninggalkan jejak rasa sitrun di lidah. Itulah pengalaman mencicipi kopi Oksibil dari Pegunungan Bintang, Papua.

Biji kopi jenis arabika typica ini dapat disajikan dengan berbagai metode, di antaranya V60, tubruk, atau dicampur dengan susu dan menjadi latte.

Beberapa waktu lalu Antara berkesempatan mencicipi langsung kopi Oksibil di salah satu kafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Dibandingkan dengan V60 atau dicampur susu, rasa sitrun yang menjadi karakteristik utama kopi ini paling terasa saat disajikan dengan metode tubruk.

“Tipikal rasa yang muncul dari arabika typica adalah rasa sitrun, yang dekat kaitannya dengan rasa berry, jeruk, peach atau apricot. Tidak jauh-jauh dari rasa asam,” kata ahli kopi Hideo Gunawan.

Hideo, yang pada Februari lalu diundang oleh Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua untuk mengajarkan cara penanaman dan teknik pengolahan kopi kepada warga setempat, menilai biji kopi dari daerah tersebut memiliki keunggulan dari segi rasa, kandungan gizi, maupun kualitas.

Pohon kopi arabika typica umumnya lebih besar dengan buah yang lebih sedikit dibandingkan dengan pohon kopi varietas lain, seperti yang banyak ditanam di Sumatera.

Pohon-pohon kopi yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.900 mdpl ini juga memiliki usia produktif yang lebih lama yakni mencapai 30 tahun, dibandingkan dengan pohon kopi jenis hibrida yang hanya sampai 10 tahun.

Suhu dingin berkisar 15 derajat Celcius, tanah yang subur, dan buah yang lebih sedikit menjadikan zat gizi yang tersimpan dalam biji kopi Oksibil makin tinggi dan rasanya menjadi lebih enak.

“Salah satu varietas pohon kopi terbaik yang pernah saya temui di Indonesia ternyata ada di Oksibil,” tutur Hideo.

Dari 34 distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang, baru lima distrik yang sudah ditanami kopi, dua di antaranya telah dikunjungi Hideo, yaitu Distrik Okbi dan Okbab.

Umumnya, petani kopi di kedua distrik tersebut sudah mengerti cara penanaman kopi yang baik, begitu pun proses dari buah yang baru dipetik sampai menjadi biji atau bubuk kopi siap jual.

Petani kopi di Kampung Sabin, Distrik Okbab, bahkan sudah menanami kebunnya dengan pohon penaung dan rumput yang ditujukan melindungi pohon-pohon kopi dari sinar matahari langsung, yang bisa mengurangi kualitas buahnya.

Untuk mendapatkan kualitas biji kopi yang optimal, buah-buah kopi dikupas dengan tangan. Meski prosesnya lebih lambat daripada pengupasan dengan mesin, hasilnya akan lebih baik.

“Kalau dikupas dengan mesin ada paparan panas, padahal panas adalah musuhnya kopi,” ujar Hideo.

Berita Lainnya
Okupansi Hotel di Papua Turun Saat Ramadhan JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM -- Pengurus Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Papua mengungkapkan tingkat hunian (okupansi) hotel saat R...
Pemkab Biak Numfor Segera Pasang Jaringan Internet Sistem LAN TIMIKA, TAJUKTIMUR.COM — Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, Papua, segera memasang jaringan internet yang diakses menggunakan sistem Local Area Network...
Bank Sentral Indonesia-PNG Agendakan Pertemuan Bahas Kerja Sama JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM — Pejabat Bank Sentral Indonesia dan Papua Nugini (PNG) mengagendakan pertemuan guna membahas rencana kerja sama kedua belah ...
KPU Biak Numfor Siapkan 720 Kotak Suara BIAK, TAJUKTIMUR.COM — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Biak Numfor, Papua, menyiapkan sebanyak 720 kotak suara untuk digunakan di tempat pemungu...
20 Kepala Sekolah Janji Perbaiki Layanan Pendidikan di Mimika TIMIKA, TAJUKTIMUR.COM -- Sebanyak 20 kepala sekolah (kepsek) tingkat SD di Kabupaten Mimika, Papua, menandatangani naskah perjanjian untuk memperbaik...
Kanal: Gaya Hidup Papua