Loading...

Penanganan Gizi Buruk Asmat yang Setengah Hati

ASMAT, TAJUKTIMUR.COM — Uskup Aloysius Murwito sudah demikian keras menyembunyikan air matanya agar tak jatuh setetes pun di depan urang Kampung As di Distrik Tiga, Agats, Asmat, Papua Desember silam.

Namun toh, Natal nyatanya tidak kunjung menghadirkan kabar baik bagi pria dari keuskupan Agats-Asmat terlebih saat ia serasa dipaksa menyaksikan langsung anak-anak Asmat meregang nyawa akibat ketiadaan gizi yang layak.

Sudah lama sesungguhnya ia tidak menangis, dan di depan anak-anak di kampung As (dan) Atat, air matanya seperti enggan dibendung menyaksikan begitu banyaknya manusia-manusia kecil yang kurang gizi dan di luar imajinasi kurus yang biasa terlihat.

Pesta Natal serasa hambar namun ibadahnya menjadi demikian khidmat lantaran permintaan khususnya kepada Yang Maha Kuasa agar malaikat diturunkan untuk mengakhiri persoalan.

Entah lantaran doanya atau bukan, kabar kepedihan di Asmat itu sampai ke ibukota dalam waktu yang amat sangat cepat bahkan jauh di luar perkiraan sang Uskup.

Tak perlu waktu lama memang untuk kemudian Presiden Joko Widodo terpanggil menginjakkan kembali kakinya untuk kesekian kalinya di Papua.

Dari yang santer terdengar Jokowi kecewa dengan penanganan gizi buruk dan stunting yang sudah dilakukan sejauh ini.

Penanganan dianggap setengah hati dan sporadis bahkan di sana-sini lebih sering tak melibatkan pihak yang justru amat dibutuhkan partisipasinya.

Industri misalnya yang sejujurnya dituntut untuk terjun ke dalam persoalan pelik itu, sebab gizi buruk bukanlah perkara peluang bisnis namun lebih jauh disadari bahwa ini adalah ancaman bagi daya saing bangsa ke depan.

Faktanya memang gizi buruk yang telah menimbulkan balita stunting hingga mencapai 30 persen dari seluruh balita di Tanah Air atau sekitar 9 juta jumlahnya tidak sekadar rampung dengan sepotong biskuit.

Kejadian stunting memang dicegah bukannya menunggu kejadian baru diatasi dan untuk mencegahnya diperluan pantauan tinggi dan berat badan sebagaimana tercantum dalam Kartu Menuju Sehat.

Sepintas cara blusukan Jokowi ke kampung-kampung membagikan biskuit kepada balita dan ibu hamil tampak sepele. Namun bagi yang sadar ada begitu banyak pesan terkandung dalam upayanya.

Ia ingin ada tindakan untuk mengakhiri penanganan gizi buruk yang setengah hati. Tetapi disadari pemberian makanan tambahan hanyalah langkah antisipasi.

Sebab menurut dokter anak yang juga Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) TB Rachmat Sentika stunting terjadi lantaran adanya ketidakcukupan gizi dan dan faktor lainnya selama dalam periode pertumbuhan 1000 hari kehidupan.

Ia mengatakan sekitar 80 persen stunting disebabkan karena faktor intervensi eksternal dan hanya 20 persen sisanya akibat keturunan atau penyakit. Bahkan lebih dari itu hingga 90 persen stunting menurut Mantan Deputi Kesejahteraan dan Perlindungan Anak Kemenkop PMK itu disebabkan oleh faktor-faktor yang sebenarnya dapat dikoreksi sejak awal kehidupan seorang anak.

Menurut dia, tidak semua stunting disebabkan karena kemiskinan atau ketidakmampuan untuk memberikan asupan namun lebih sering lantaran ketidakpahaman orang tua untuk memberikan jenis asupan yang sesuai dengan pola tumbuh kembang anak.

Rachmat Sentika mengusulkan penanganan dengan intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Sejatinya, ia berpendapat, penanganan gizi buruk dan stunting sesederhana kepedulian semua pihak untuk terlibat misalnya menyadarkan kembali pentingnya mengacu pada buku pedoman yang ada di dalam buku KIA atau KMS yang di dalamnya terdapat kurva pertumbuhan anak.

Jika ditemui dan dipantau pertumbuhan anak melambat di bawah perkiraan angka idealnya atau “faltering growth” maka sudah saatnya menghubungi tenaga medis untuk mendapatkan penanganan karena harus ada intervensi makanan industri berbasis “food science” yang mudah diserap karena sudah dipecah dan dipermudah untuk proses penyerapan.

Rachmat melihat upaya penanganan gizi buruk di Indonesia sejatinya telah memiliki pedoman baku yang ideal yang dibukukan dalam buku jingga dan mudah didapatkan di pusat-pusat layanan kesehatan.

Sayangnya, optimalisasi dalam implementasinya masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri termasuk dalam hal memelopori keterlibatan akademisi, bisnis, industri, pemerintah, dan media sekaligus menyamakan persepsi dalam mengatasi persoalan itu.

Terlebih stunting itu harus dipahami dengan serius untuk diatasi bukan sekadar dengan memberikan biskuit melainkan intervensi pemulihan bukan lagi penyuluhan.

Untuk mencegah gizi buruk memang diperlukan kemauan dan upaya bersama yang dilandasi dengan peraturan dan ilmu pediatri.

Berita Lainnya
TNI Evakuasi Enam Pekerja Terjebak di Hutan Belantara WAMENA, TAJUKTIMUR.COM - Pasukan TNI berhasil mengevakuasi enam orang pekerja konstruksi di Distrik ...
Harga Bahan Pokok Naik, Warga Papua Diminta Tidak Panik JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Iklim Usaha dan Hubungan Antar Lemba...
Pemprov Papua Tetapkan Libur Bersama Natal dan Tahun Baru 2019 JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua menetapkan libur dan cuti bersama dal...
MK Putuskan Ateng Edowai/Hengky Pigai sebagai Bupati dan Wabub Terpilih Deiyai JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan Ateng Edowai/Hengky Pigai sah menjadi ...
KPU Yalimo: DPT Bertambah Menjadi 89.439 Jiwa WAMENA, TAJUKTIMUR.COM - Ketua KPU Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua, Yehemia Walianggen menyebut Daf...
Kanal: Papua