Loading...

Peneliti: Bahasa Daerah di Kota Jayapura Dikhawatirkan Punah

JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM – Sejumlah bahasa daerah atau bahasa lokal di salah satu wilayah adat tanah Tabi, Provinsi Papua yakni di Kota Jayapura dikhawatirkan akan punah jika tidak segera dilestarikan.

Demikian hal ini disampaikan oleh Suharyanto, salah satu peneliti senior dari Balai Bahasa Papua dan Papua Barat di Kota Jayapura, Jumat.

“Bahasa-bahasa asli Papua yang terletak di tanah Tabi itu diantaranya ada bahasa Sentani, bahasa Nafri, Tobati Enggros, Kayu Pulo dan ada bahasa Skouw, secara umum kecuali bahasa Sentani, kondisi vitalitas bahasa-bahasa daerah yang ada di tanah Tabi ini cukup memprihatinkan keberadaannya,” katanya.

Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat, kata dia, pernah melakukan penelitian terhadap pemakaian bahasa Nafri dan bahasa Tobati Enggros di Kota Jayapura pada 2003 dan 2004.

“Untuk pemakaian bahasa Nafri, kalau tidak ada penanganan yang serius, baik dari penutur maupun dari negara itu diperkirakan dalam tiga generasi kedepan akan punah atau musnah, demikian juga untuk bahasa Tobati Enggros, dan juga bahasa Kayu Pulo,” katanya.

Sementara, terkait penelitian pemakaian bahasa Kayu Pulo, alumnus sastra Indonesia dari Universitas Gajah Mada (UGM) itu mengatakan belum melakukan penelitian tetapi berdasarkan kedekatan tempat, banyaknya penutur maka bisa disimpulkan bahwa bahasa daerah tersebut juga terancam punah.

“Tetapi melihat dari jumlah penutur yang lebih kecil dibanding dua bahasa yang saya sebut tadi (Nafri dan Enggros Tobati,red) dan letaknya persis di jantung Kota Jayapura, maka kondisi vitalitas bahasa Kayu Pulo, saya yakin ada dibawah bahasa Nafri dan Tobati Enggros tadi,” katanya.

Terancam punahnya ketiga bahasa daerah itu, lanjut dia, bisa disebabkan karena beberapa hal, diantaranya terkait jumlah penutur yang berkurang, lokasi suatu daerah, kebutuhan serta asimilasi yang terjadi.

“Seperti kita ketahui dimanapun kota di seluruh dunia ini terdapat berbagai macam etnik yang datang, mau tidak mau pasti akan mempengaruhi kondisi vitalitas bahasa daerah setempat. Ini sudah pasti akan terjadi interaksi soal kebutuhan, sehingga dipastikan memakai bahasa pengantar yang mudah dipahami bersama,” katanya.

“Ketika berbicara soal kebutuhan hidup maka akan menggunakan bahasa pengantar yang dipahami bersama, nah dalam kasus bahasa disini, mau tidak mau pasti para penuturnya akan menggunakan bahasa Indoensia sebagai bahasa pengantar, maka secara langsung atau tidak langsung bahasa seperti Kayu Pulo ini akan terdesak, tergerus oleh pemakaian bahasa Indonesia,” lanjutnya.

Suharyanto yang pernah menulis tesis soal pemetaan bahasa Kayu Pulo itu mengatakan perlunya pelestarian bahasa daerah di tanah Tabi sehingga tidak punah dengan cara media pembelajaran di sekolah-sekolah.

“Sebetulnya cara mempertahankan media bahasa ini sudah mulai dirintis oleh pihak Kota Jayapura, dengan cara menyusun bahan ajar untuk buku muatan lokal yang ada di tanah Tabi, agar diajarkan ditingkat sekolah dasar,” kata pria yang juga menyelesaikan S2 linguistik di UGM bidang keahlian historis komparatif.

Berita Lainnya
BPS: Penduduk Miskin di Mimika Capai 31.175 Jiwa TIMIKA, TAJUKTIMUR.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika, menyatakan penduduk miskin di...
Kementerian PUPR bantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Papua JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Program Rumah Khusus (Rusus) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan...
Polisi Sentani-Warga Nendali Sepakat Tolak Hoaks SENTANI, TAJUKTIMUR.COM - Kepolisian Sektor (Polsek) Sentani Timur bersama warga Kampung Nendali Sen...
Gubernur Lukas: Pemilu Legislatif 2019 berpotensi Konflik JAYAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Gubernur Papua Lukas Enembe memprediksi pelaksanaan pemilu legislatif 201...
Bupati Lantik Pejabat Sekda Mimika TIMIKA, TAJUKTIMUR.COM - Bupati Mimika Eltinus Omaleng melantik Marthen Paiding sebagai Penjabat Sek...
Kanal: Papua