Loading...

Today In History: Kisah Presiden Soekarno Pindahkan Ibukota 72 Tahun Lalu

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Tepat tanggal 4 Januari 1946. Saat hari masih gelap gulita Presiden Soekarno dan rombongan meninggalkan Jakarta menumpang kereta api menuju Yogyakarta.

Presiden bukan ingin piknik ke Yogyakarta. Dia dan rombongan justru sedang dalam pelariannya meninggalkan Jakarta yang sudah dikuasai NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie) atau Netherlands-Indies Civil Administration.

NICA adalah organisasi semi militer bentukan Belanda pada tanggal 3 April 1944 yang bertugas mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum di Kawasan Hindia Belanda atau Indonesia saat itu. Organisasi tersebut dibentuk seusai Jepang kalah dari sekutu dalam Perang Dunia II.

Ketua Pusat Studi Pancasila UGM, Prof Soetaryo pernah menyatakan setelah Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 NICA masuk Indonesia besama sekutu berupaya mengambil alih pemerintahan. Pada 29 September 1945 mereka berhasil menduduki Jakarta setelah masuk bersama sekutu.

Maka pada 2 Januari 1946 Sultan Hamengku Buwono IX mengirim kurir ke Jakarta dan menyarankan agar ibukota dipindah ke Yogyakarta. Tawaran itu diterima Soekarno.
Mengingat seluruh penjuru kota Jakarta telah diawasi ketat pasukan NICA dan Sekutu dipilihlah kereta api untuk keluar dari Jakarta karena jalur kereta masih dianggap aman waktu itu. Pada tanggal itu juga Soekarno menyebarkan informasi pemindahan itu kepada kabinetnya.

“Kita akan memindahkan ibu kota besok malam. Tidak ada seorang pun dari saudara boleh membawa harta benda. Aku juga tidak,” kata Soekarno seperti ditulis Cindy Adams dalam biografi Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Pada 3 Januari 1946 menjelang tengah malam, sebuah gerbong kereta yang ditarik dengan lokomotif uap C.2809 buatan Henschel (Jerman) dan dimatikan lampunya berhenti di belakang rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 (Menteng).

Rumah tersebut memang terletak di pinggir rel kereta jalur Manggarai dan Gambir. Jalur itu merupakan jalur kereta langsir (berpindah rel) antara kedua stasiun tersebut sehingga berhentinya kereta di belakang Jalan Pegangsaan tidak akan dicurigai NICA. Seperti penuturan Soekarno kepada Cindy Adams mereka menahan napas saat menyusup ke gerbong kereta tersebut. Orang-orang NICA menyangka gerbong itu kosong.

Akhirnya tanggal 4 Januari 1946 dini hari kereta api tersebut berhasil membawa Presiden Soekarno dan rombongan ke Yogyakarta menembus gelapnya malam tanpa lampu. Semua penumpang diliputi ketegangan dalam perjalanan itu.

Jalur yang dilalui adalah Pegangsaan Timur – Manggarai – Jatinegara – Bekasi – Cikampek – Cirebon – Purwokerto – Kroya – Kutoarjo – Yogyakarta. Setiba di Stasiun Tugu Yogyakarta pagi harinya mereka disambut Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sri Pakualam VIII, Panglima TKR Jenderal Soedirman, para pejabat tinggi negara yang sudah lebih dahulu berada di Yogyakarta dan tentu saja segenap rakyat Yogyakarta. Mereka mengarak Soekarno dan rombongan menuju Gedung Agung melewati Jalan Malioboro.

Soekarno menjalankan roda pemerintahan dari Yogyakarta sekitar empat tahun. Setelah pengakuan kedaulatan dari Pemerintah Belanda sebagai hasil Konferensi Meja Bundar Soekarno kembali ke Jakarta pada 28 Desember 1949.

Tanggal 17 Agustus 1950 pemerintahan secara penuh kembali ke Jakarta setelah Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(dwisan/ttcom)

Berita Lainnya
Sosok Joko Widodo – Terus Meraih Hati Rakyat JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Presiden Joko Widodo berupaya terus meraih hati rakyat dengan turun mendek...
Sosok Prabowo Subianto – Ingin Berkuasa atas Izin Rakyat Indonesia JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Letnan Jenderal (Purn) TNI Prabowo Subianto mengaku ingin berkuasa dengan ...
Sosok Ma’ruf Amin – Ingin Hadirkan Arus Baru Ekonomi JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Bakal calon Wakil Presiden pendamping Joko Widodo, Ma'ruf Amin menyatakan ...
Sosok Sandiaga Uno – Keinginan Membangun Ekonomi Bangsa JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno ingin membangun ...
Tokoh Pers Indonesia Sabam Leo Batubara Meninggal Dunia JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Dunia jurnalistik Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok terbaiknya...
Kanal: Tokoh