Loading...

Masjid Tua Patimburak Bukti Keberagaman di Fakfak

JAYAPURA (TAJUKTIMUR.COM) – Tahukah Anda, Papua memiliki masjid berusia lebih dari 145 tahun di Kabupaten Fakfak. Masjidnya pun unik, memiliki gaya arsitektur ala bangunan Eropa. Inilah Masjid Tua Patimburak, yang disebut-sebut masjid tertua di tanah Papua.

Masjid yang dibangun pada tahun 1870 Masehi masih tetap berdiri kokoh di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Masjid ini merupakan bukti sejarah masuknya agama Islam di tanah Papua dan sekaligus menjadi pusat kegiatan agama Islam di Kabupaten Fakfak.

Usut punya usut, masjid tersebut punya nama asli yakni Masjid Al Yasin. Namun karena berlokasi di Desa Patimburak dan umurnya sudah sangat tua, maka lebih familiar dengan nama Masjid Tua Patimburak.

Masyarakat sekitar mengetahui, bahwa Masjid Tua Patimburak didirikan oleh seorang imam bernama Abuhari Kilian. Dia berasal dari Kesultanan Ternate dan mendapat tugas untuk menyebarkan Islam ke tanah Papua.

Masjid Tua Patimburak disebut-sebut sebagai masjid pertama yang ada di Papua. Namun coba perhatikan, tampak jauh Masjid Tua Patimburak tidak terlihat seperti masjid.

Tampak jauh, kubah Masjid Tua Patimburak mirip dengan kubah mirip gereja-gereja di Eropa pada masa lampau. Atapnya berupa seng (seperti rumah-rumah di Papua) dan berwarna hijau, merah dan kuning.

Masih soal arsitektur bangunannya, bentuk segi enam pada dasar bangunan melambangkan enam rukun iman yang merupakan dasar ajaran Islam. Kubah dengan alas berbentuk segi delapan, menggambarkan delapan mata angin dengan salah satu arah ditandai oleh mihrab yang menunjuk ke arah Kiblat.

Sementara itu, di tengah-tengah bangunan masjid terdapat empat tiang penyangga yang menyerupai struktur bangunan di pulau Jawa. Interior masjid ini pun hampir sama dengan masjid-masjid yang didirikan oleh para wali di Jawa.

Dalam perkembangan zaman, masjid Masjid Tua Patimburak pernah diterjang bom tentara Jepang. Lubang bekas pecahan bom tersebut masih dapat dilihat di pilar masjid.

Hingga kini, Masjid Tua Patimburak tetap menjadi tempat ibadah untuk sekitar 150 umat Muslim yang ada di Desa Patimburak.

Baru baru ini seorang Arkeolog Papua, Hari Suroto mengungkapkan keberadaan Masjid tersebut sebagai bukti keberagaman warga setempat.

“Masjid Tua Patimburak dibangun oleh Raja Pertuana Wertuar pada 1870 Masehi yang menunjukkan keberagaman di daerah itu,” kata Hari Suroto, di Jayapura, Papua, Kamis.

Arsitektur masjid itu, kata dia, sangat unik karena ada perpaduan bentuk masjid dan gereja.

Apalagi jika dilihat dari kejauhan, masjid tersebut terlihat seperti gereja, dimana kubahnya mirip arsitektur gereja-gereja di Eropa pada masa lampau.

“Hasil penelitian arkeologi menunjukan bahwa Masjid Tua Patimburak merupakan wujud dari konsep filosofi `satu tungku tiga batu,” katanya.

Masjid Tua Patimburak dibangun secara gotong royong oleh warga Pertuanan Wertuar baik yang memeluk agama Islam maupun Kristen.

Saat itu, atau pada 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Pertuanan Wertuar.

“Satu tungku tiga batu mengandung arti `tiga posisi penting` dalam keberagaman dan kekerabatan etnis di Fakfak. Satu tungku tiga batu artinya tungku tersusun atas tiga batu berukuran sama,” katanya.

Ketiga batu ini, lanjut dia, diletakkan dalam satu lingkaran dengan jarak satu sama dengan lainnya sehingga posisi ketiganya seimbang untuk menopang periuk tanah liat.

Tungku yang berkaki tiga membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan.

“Makna agama dalam konsep filosofi satu tungku tiga batu, bahwa ketiga batu itu dilambangkan sebagai tiga agama yang sama kuat dan menjadi kesatuan yang seimbang untuk menopang kehidupan dalam keluarga. Tiga agama ini yaitu Islam, Protestan dan Katolik,” katanya.

Tidak jarang dalam satu keluarga besar di Fakfak dan sekitarnya terdapat tiga aliran agama, tetapi mereka tetap hidup rukun dan damai disertai nilai-nilai toleransi yang tinggi.

“Mereka tidak akan pernah terpengaruh oleh isu-isu, ataupun perselisihan terkait agama. Toleransi hidup beragama di Fakfak sangat kental dan tetap dipertahankan oleh masyarakat dan patut untuk dicontoh, sebegai bentuk keberagaman dan kebhinekaan yang ada di Indonesia,” kata Hari.

Bagi traveler, tentu masjid ini merupakan destinasi religi sekaligus sejarah. Tertarik berkunjung?

(and/ttcom)

Berita Lainnya
NTB jadi Destinasi Wisata Halal Terfavorit di Anugerah Syariah Republika 2018 JAKARTA, TAJUKTIMUR.COM - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terpilih sebagai tujuan wisata halal te...
Festival Pulau Hiri Tampilkan Kearifan Lokal Bahari TERNATE, TAJUKTIMUR.COM - Festival Pulau Hiri di Kota Ternate, Maluku Utara, pada awal Oktober 2018 ...
Keren! 8 Destinasi Indonesia Tebar Pesona di Changi Airports SINGAPURA, TAJUKTIMUR.COM - Wonderful Indonesia semakin intens mempromosikan pariwisata luar negeri....
‘Mari baronda di Benteng Oranje Ternate’ TERNATE, TAJUKTIMUR.COM - Benteng Oranje didirikan pada tanggal 26 Mei 1607 oleh Cornelis Matclief d...
5 Makanan Halal dan Wajib Coba Asli Raja Ampat TAJUKTIMUR.COM -- Bila pergi ke Raja Ampat maka jangan lupa untuk menikmati wisata kuliner yang past...
Kanal: Wisata